SOP PENELITIAN WARISAN PROBOLINGGO
(Bambang Sutedjo,S.Pd.)
Dokumen
ini merupakan panduan praktis (SOP) berbasis metodologi tingkat Standar untuk
Tim Sejarah Kabupaten Probolinggo saat terjun langsung ke lapangan (situs,
lokasi penemuan artefak/prasasti, atau wawancara keturunan tokoh).
I. ALUR KERJA UTAMA
DI LAPANGAN (FLOWCHART OPERASIONAL)
Setiap kali tim menerima laporan penemuan atau menuju target situs/tokoh, wajib mengikuti 4 tahapan berurutan berikut:
T
A
H
A
P
Nama Langkah
Aktivitas Konkret di Lapangan
Output / Hasil Kerja
1
Pra-Lapangan & Heuristik Awal
Membaca naskah pendukung (Negarakertagama/Babad/Arsip Belanda) sebelum berangkat untuk mencari titik koordinat awal.
Peta target dan daftar hipotesis awal.
2
Observasi Fisik & Spasial (In-Situ)
Turun ke lokasi: Mengukur dimensi benda, memotret detail (makro/mikro), mencatat koordinat GPS, menganalisis arah mata angin dan jarak ke sungai/pantai kuno.
Logbook lapangan, foto resolusi tinggi, koordinat spasial.
3
Wawancara & Hermeneutika Lokal
Jika mengkaji Tokoh/Situs keramat: Wawancara juru kunci atau keturunan tokoh menggunakan teknik wawancara kritis (memisahkan mitos ghaib dengan memori sosial asli).
Transkrip rekaman, catatan silsilah tertulis (jika ada).
4
Kritik Sumber Instan di Lapangan
Menguji temuan teks/tulisan secara cepat: Apakah ada keganjilan istilah kata (anakronisme)? Apakah tulisan aksaranya sesuai dengan zamannya?
Lembar Validasi Awal Kelayakan Temuan.
II. CARA KERJA
DAN PANDUAN TEKNIS OBJEK
KHUSUS
A. Panduan Membedah
KITAB KUNO / MANUSKRIP DI LAPANGAN
1.
Jangan
Menyalin Mentah: Jika warga
menunjukkan kitab kuno, jangan langsung menganggap isinya sejarah mutlak. Catat
bahan kertasnya (Daluang/Lontar/Eropa) untuk mengunci estimasi abad
pembuatannya.
2.
Cari Kolofon: Periksa bagian akhir naskah. Biasanya terdapat
catatan titi mangsa (tanggal penulisan asli) oleh sang pujangga.
3.
Uji Istilah
Anakronik: Jika isi naskah menyebut
peristiwa era kuno tapi sudah memakai istilah geografi atau kata serapan modern
abad ke-19 (contoh beberapa kasus Lampung/Jambi), catat bahwa naskah ini adalah salinan baru
yang sudah mengalami distorsi.
B. Panduan Membedah PRASASTI & ARTEFAK
BARU DI LAPANGAN
1.
Dokumentasi
Epigrafi: Potret tulisan prasasti
dengan teknik pencahayaan samping (oblique lighting) agar guratan aksara yang
aus terlihat jelas di kamera.
2.
Analisis
Stratigrafi & Asosiasi: Jika
menemukan pecahan keramik atau terakota bata besar, catat kedalaman tanahnya.
Periksa apakah ada kesamaan corak dengan gaya Majapahitan atau peninggalan
pelabuhan kuno Banger.
3.
Konteks
Geohistoris: Petakan posisinya.
Mengapa artefak ini terkubur di wilayah Probolinggo bagian ini? Apakah jalur
ini dulu merupakan jalur sutra/rempah darat atau sungai di masa lalu?
C. Panduan Riset TOKOH SEJARAH PROBOLINGGO
DI LAPANGAN
1.
Pelacakan
Makam dan Situs Pemerintahan: Datangi
makam tokoh (misal Kanjeng Djimat atau Kyai Djojolelono). Struktur nisan dan
jirat makam dapat mengonfirmasi kebenaran era hidup sang tokoh.
2.
Wawancara
Pembalikan Sudut Pandang (Bumiputrasentris): Saat mengumpulkan cerita tutur dari keturunan tokoh, bandingkan dengan
catatan arsip Belanda. Jika arsip kolonial mencap tokoh tersebut
"pemberontak", gali ingatan kolektif warga setempat untuk membuktikan
agensi perjuangan sang tokoh dalam membela hak rakyat Probolinggo.
III. INSTRUMEN SIAP JALAN: CHECKLIST
VALIDASI
SEBELUM PUBLIKASI BLOG
Sebelum Tim Sejarah
mengetik hasil temuan lapangan ke Blog Warisan Probolinggo, pastikan 3
pertanyaan Profesor ini terjawab:
●
[ ] Apakah temuan
ini didukung oleh sinkronisasi dua sumber berbeda (Benda + Teks atau Teks +
Tutur)?
●
[ ] Apakah
analisis narasi tokoh/benda ini sudah bersih dari bias dongeng murni dan prasangka
kolonial Belanda?
wilayah pinggiran?