Jejak Surya Di Langit Bandaran
Fajar belum benar-benar pecah di
Dusun Bandaran, Desa Dringu, Kabupaten Probolinggo. Udara akhir Mei 2026 masih
menyisakan jepitan dingin yang kering dan menusuk tulang---sebuah fenomena
tahunan yang oleh warga lokal disebut musim angin Gending yang ngregesi/mbedidik.
Jenis dingin yang dibawa oleh
angin muson tenggara dari daratan Australia yang membeku. Di beranda rumahnya
yang menghadap langsung ke arah teluk Bandaran, Faris duduk menyendiri,
ditemani segelas kopi hitam yang uapnya menari-nari tipis.
Peredaran Semu
Matahari. Sumber: Info Asronomy.
Sebagai pria semester 2 mahasiswa
jurusan Sistem Informasi UT ini menghabiskan sebagian besar usianya mengamati
ritme alam di pesisir Probolinggo, Faris hafal betul tabiat langit di atas
kepalanya.
Pagi ini, matanya menyipit,
menatap lurus ke cakrawala Timur, di mana jajaran pegunungan berdiri kokoh
memagari laut yang tenang. Ada yang bergeser. Bagi orang awam, matahari terbit
selalu sama: sebuah bulatan jingga yang muncul dari balik batas air.
Namun tidak bagi Faris. Di akhir
bulan kelima ini, ia menyaksikan sang surya tidak lagi menyembul tepat di titik
timur sejati. Titik terbit itu telah bergeser, menlancong perlahan ke arah
utara, menjauhi garis khatulistiwa imajiner yang membelah desanya.
Sketsa Gambar
Peredaran Mataharidi Titik pengamatan dusun BandaranSumber: Bambang Sutedjo
(Ahad Pon, 31 Mei 2026)
"Matahari sudah hampir
sampai di puncaknya di utara," gumam Faris dalam hati, mengingat
catatan-catatan kecil yang sering ia gariskan di kalender dinding rumahnya.
Kurang 21 hari kalender tepatnya di bulan Juni.
Malam mbedidik yang baru saja
lewat kian merayap tua dalam ingatannya, namun kelopak mata Faris enggan
terpejam sejak tadi. Di tangannya, selembar kertas tua bergetar pelan ditiup
angin muson, yang dikenal dengan angin Gending. Bertiup dari Gending menuju
dusun Bandaran-Dringu. Sketsa peredaran matahari karya Bambang Sutedjo
bertitimangsa Ahad Pon, 31 Mei 2026 itu bukan lagi sekadar bagan astronomi mati
bagi Faris. Lembar itu adalah peta takdir pesisirnya sendiri.
Matanya terpaku pada angka-angka
hari yang tertera di sana: 93,6 hari perjalanan sang surya dari ekuator menuju
Garis Balik Utara (GBU), lalu kembali lagi dalam pelukan 92,8 hari. Garis-garis
oranye di atas kertas itu seolah hidup, bergerak meliuk, mempertegas mengapa
setiap bulan Juni, teluk di timur rumahnya mendadak menjelma menjadi tungku
kering yang membakar ladang-ladang palawija serta tebu di Dringu.
"Jadi, ini alasan mengapa
angin Australia mencabik-cabik ketenangan laut kita," bisik Faris pada
sunyi.
Dia tahu betul, saat bumi miring
dan matahari pasrah terseret ke titik tertinggi di Utara pada tanggal 21 Juni
nanti, Dusun Bandaran akan memasuki puncaknya: siang yang terasa membakar namun
diiringi malam yang dinginnya mencekik. Angka-angka di sketsa itu adalah detak
jantung alam yang selama ini luput dari pembicaraan orang-orang warung kopi di
[antai Bandaran.
Faris menarik napas dalam-dalam,
membiarkan udara pagi yang dingin mengisi dadanya yang sesak oleh rasa takjub.
Peta langit di tangannya kini terasa seperti sebuah kompas suci. Di atas kertas
itu, lingkaran besar ekuator dan solstis bukan sekadar teori akademis,
melainkan naskah drama kolosal di mana Dusun Bandaran bertindak sebagai
panggung utamanya.
Matanya kembali menelusuri alur
panah melingkar di sisi kiri sketsa. Tanggal 21 Juni. Kurang dari sebulan lagi,
matahari akan mengunci posisinya tepat di Garis Balik Utara. Faris membayangkan
bagaimana nanti sang surya terbit, bergeser jauh ke sisi kiri dari puncak
pegunungan di timur teluk yang biasa ia amati. Pada saat itulah, fenomena alam
di desanya akan mencapai titik paling ekstrem.
"Sembilan puluh tiga hari
perjalanan yang melelahkan," gumam Faris, menyentuh angka 93,6 hari yang
tertera pada panah jingga bagian bawah. Angka itu adalah waktu yang dibutuhkan
matahari untuk merangkak naik dari garis khatulistiwa hingga sampai ke titik jenuhnya
di utara.
Ia teringat cerita para sesepuh
nelayan tentang bagaimana laut di dalam teluk Bandaran-Dringu bisa mendadak
berubah tabiat. Ketika matahari berada di utara, tekanan udara di daratan Asia
melemah, sementara Australia di selatan membeku dan menciptakan pusat tekanan
tinggi. Akibatnya, angin kering (Angin Gending) berkecepatan tinggi berembus
melintasi lautan, menghempas ombak masuk ke dalam ceruk Teluk Bandaran. Bagi
nelayan tradisional, ini adalah masa-masa di mana mereka harus membaca arah
ombak dengan tingkat presisi seorang ahli bedah. Salah perhitungan sedikit saja
di mulut teluk, taruhannya adalah perahu yang karam terhempas dalam laut.
Namun, yang membuat Faris paling
tidak bisa memalingkan wajah adalah misteri yang tertulis di sisi kanan sketsa:
perjalanan menuju Garis Balik Selatan. Di sana tertulis 89 hari dan 89,8 hari.
Waktu tempuh matahari di belahan bumi selatan ternyata lebih singkat
dibandingkan saat berada di utara. Faris menyipitkan mata, mencoba mencerna apa
artinya ini bagi siklus hidup di pesisir Probolinggo. Mengapa pergerakan ke
selatan terasa lebih bergegas? Apakah itu alasan mengapa kedatangan musim hujan
di bulan Desember selalu terasa mendadak, datang dengan badai barat yang
tiba-tiba menggulung langit teluk menjadi hitam pekat tanpa permisi?
Rasa penasaran itu membakar benak
Faris. Ia tahu, jawaban dari misteri perbedaan waktu edar ini akan mengungkap
mengapa pola tanam bawang merah di Dringu terkadang meleset, dan mengapa
ikan-ikan di laut mendadak hilang bermigrasi pada bulan-bulan tertentu.
Semburat jingga pertama akhirnya
pecah sepenuhnya di balik jajaran pegunungan timur Teluk Bandaran. Faris
berdiri bergeming di ujung dermaga bambu, membiarkan ujung sarungnya dikibas
angin laut yang berbau garam.
Tepat di celah lekukan gunung,
sebuah titik cahaya benderang muncul. Bulatan surya itu menyembul, memantulkan
kilau keemasan yang langsung membelah permukaan air tenang di dalam teluk.
Posisinya benar-benar meleset ke utara, persis seperti yang digariskan dalam sketsa
astronomi tersebut.
Sisa waktu sekitar tiga minggu ke
depan adalah masa kritis, di mana sang surya akan mencapai titik jenuhnya di
posisi 23,5 Lintang Utara sebelum berbalik arah. Di bawah sinaran fajar yang
kian benderang, riak Teluk Bandaran mulai terlihat jelas.
Beberapa perahu nelayan
tradisional bergoyang pelan, tertambat rapi di sepanjang tepian dermaga. Namun,
kedamaian visual ini menipu.
Pergerakan matahari ke utara yang
memakan waktu total hampir 186 hari (pergi-pulang dari ekuator ke GBU dan
kembali lagi) adalah alasan mengapa musim kemarau di Dringu selalu terasa lebih
panjang, menguras sumur-sumur warga dan mengeraskan tanah ladang bawah merah
mereka.
Ia menyentuh tugu batu kuno di
dekat dermaga, yang permukaannya kini mulai hangat disentuh sinar pagi. Tugu
itu seolah menjadi saksi bisu mutlak bahwa garis edar ini konstan, tak pernah
berubah sejak ratusan tahun lalu, mengikat takdir setiap manusia yang lahir di
pesisir Probolinggo pada ritme kosmis yang sama.
Faris kembali duduk di kursi
berandanya, menatap sketsa di tangannya untuk terakhir kali sebelum melipatnya
rapat-rapat. Fajar telah genap berganti menjadi pagi yang benderang, menyiram
Dusun Bandaran dengan cahaya kuning keemasan yang hangat namun menyimpan janji
kemarau yang panjang. Di hadapannya, Teluk Bandaran membentang tenang,
menyembunyikan pergolakan arus bawah yang digerakkan oleh jemari tak terlihat
dari langit utara.
Dengan hati yang kini jauh lebih
tenang namun dipenuhi kewaspadaan rahasia, Faris memasukkan sketsa itu ke dalam
laci mejanya yang paling aman. Pagi itu, saat angin Gending yang mbedidik
perlahan melunak disapu kehangatan surya, Faris melangkah keluar rumah menuju
dermaga. Ia tidak lagi menatap langit dengan penuh tanya, melainkan dengan
sebuah kesiapan. Pesisir Bandaran akan terus berputar, dan Faris kini berdiri
di sana sebagai penjaga waktu yang tahu persis ke mana arah angin esok hari
akan berembus.
"Dinginnya malam Angin Gending
yang mbedidik dan gersangnya kemarau hanyalah tanda bahwa sang surya sedang
berpindah panggung. Jangan mengutuk musim yang sedang gersang, karena di balik
garis edar yang melelahkan, alam selalu menyiapkan kepulangan yang membawa
berkah hujan."
"Setiap musim ada tandanya,
setiap tanda ada musimnya. Pandai-pandailah membaca tanda-tanda musim agar
langkah tak salah arah, layar tak salah kembang, agar kita tak , mudah mengutuk
kemarau saat alam sebenarnya sedang bersiap menjemput hujan."
