ENSIKLOPEDIA WARISAN
📚 ENSIKLOPEDIA WARISAN PROBOLINGGO
(Arkeologi - Sejarah - Budaya)
🏛️ KELOMPOK [ A - C ]
Arca (Istilah Arkeologi / Ikonografi)
Definisi: Media pemujaan keagamaan berupa patung tiga dimensi yang dipahat dari batu andesit atau dicor menggunakan logam (perunggu/emas).
Uraian: Di Kabupaten Probolinggo, arca menjadi penanda peninggalan era Hindu-Buddha. Contoh monumental adalah Arca Ganesha Klasik Tiris (1420 M) sebagai simbol penolak bala di jalur sungai, serta Arca Dewa Surya dan Dwarapala Sukapura (1336 M) yang berfungsi sebagai penjaga spiritual di kawasan mandala suci lereng Tengger.
Artefak (Istilah Arkeologi)
Definisi: Semua benda purbakala yang dibuat, dimodifikasi, atau digunakan secara nyata oleh manusia masa lalu yang dapat dipindahkan (movable heritage).
Uraian: Khazanah artefak Probolinggo sangat kaya, membentang dari alat batu paleolitik, peralatan rumah tangga kuno, lempeng perunggu hukum (Prasasti Rameswarapura 1261 M), hingga fragmen keramik impor asing yang menjadi materi kunci rekonstruksi sejarah kebudayaan daerah.
Banger (Sejarah — Abad ke-15 s.d 18 M)
Definisi: Nama kuno bagi wilayah pusat kota dan kabupaten Probolinggo sebelum abad ke-18.
Uraian: Nama ini merujuk pada sungai payau (Kali Banger) yang pertama kali dibuka menjadi permukiman oleh Ki Gede Bunut pasca-keruntuhan Majapahit. Di era kolonial, atas persetujuan Gubernur Jenderal Daendels, nama Banger resmi diubah menjadi Probolinggo (Praba: Sinar, Lingga: Tanda/Pemimpin).
Babad Blambangan & Pajarakan (Sastra Kuno — Abad ke-17 s.d 18 M)
Definisi: Naskah kronik sejarah berbentuk tembang macapat yang merekam pergolakan politik di wilayah ujung timur Jawa (Oosthoek).
Uraian: Teks ini mencatat koridor Probolinggo (terutama wilayah Geding dan benteng kuno Pajarakan) sebagai medan pertempuran sengit pertahanan garis depan antara faksi Blambangan, Bali, Mataram Islam, dan VOC.
Batu Lesung Paiton (Penemuan Terbaru / Arkeologi Perdesaan — Abad ke-14 M)
Definisi: Kompleks artefak batu berupa lesung dan mortar batu kuno yang ditemukan terpendam di area persawahan pinggiran Kecamatan Paiton.
Uraian: Penemuan terbaru ini berhasil diidentifikasi oleh tim arkeolog lokal. Struktur goresan dan jenis batuan andesitnya mengindikasikan bahwa situs ini merupakan area pengolahan pangan komunal berskala besar pada masa klasik Majapahit.
Bunyuk (Sejarah / Toponimi — Abad ke-14 M)
Definisi: Nama kuno untuk wilayah pesisir/pedalaman Probolinggo yang tercatat dalam dokumentasi register spasial kuno Majapahit.
Uraian: Sering dikaitkan dalam silsilah pembagian wilayah penunjang logistik maritim pertahanan timur Majapahit. Nama kuno ini melambangkan jaringan desa-desa perdikan tua (sima) di Probolinggo yang menyokong aktivitas keagamaan maupun jalur ekonomi kerajaan.
Candi (Istilah Arkeologi / Arsitektur)
Definisi: Bangunan suci peninggalan masa klasik Hindu-Buddha yang berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa, tempat pendarmaan (makam) raja/bangsawan, atau tempat ibadah para resi.
Uraian: Struktur candi di Probolinggo memiliki kekhasan material dan fungsi, mulai dari candi berbahan bata merah silindris untuk pendarmaan (Candi Jabung 1354 M) hingga candi berbahan batu andesit di pegunungan untuk tempat pemujaan resi (Candi Kedaton 1370 M).
Candi Jabung (Arkeologi — 4 September 1354 M)
Definisi: Menara pendarmaan suci berbahan bata merah peninggalan era puncak Kerajaan Majapahit di Kecamatan Paiton.
Uraian: Selesai dibangun pada 4 September 1354 M (1276 Saka). Candi ini sangat unik karena bertubuh silinder (tabung) di atas batur persegi. Berdasarkan Kitab Negarakertagama, candi ini merupakan tempat pendarmaan (dhinarma) bagi Bhre Gundal, bangsawan wanita kerabat dekat Raja Hayam Wuruk.
Candi Kedaton (Arkeologi — 14 Oktober 1370 M)
Definisi: Situs purbakala berupa batur (kaki candi) berbahan batu andesit yang terletak di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, di lereng barat Gunung Argopuro.
Uraian: Memiliki angka tahun pahat 14 Oktober 1370 M (1292 Saka). Dinding baturnya dipenuhi panil-panil relief naratif yang memuat epos Kakawin Arjunawiwaha serta relief cerita fabel Tantri Kamandaka.
🏛️ KELOMPOK [ D - M ]
Dringu (Arkeologi Maritim / Sejarah — Abad ke-12 M s.d Kolonial)
Definisi: Wilayah pesisir pantai utara Probolinggo yang memegang peran historis sebagai bandar pelabuhan kuno dan pintu masuk asimilasi budaya.
Uraian: Di kawasan Dringu, para arkeolog banyak menemukan sebaran fragmen keramik asing serta pondasi bangunan tua. Dalam catatan kolonial, Dringu juga berkembang menjadi pusat ekonomi perkebunan (pabrik gula) penting yang terhubung langsung dengan Groote Postweg (Jalan Raya Pos).
Ekskavasi Struktur Bata Gading (Penemuan Terbaru / Arkeologi Permukiman — Abad ke-13 s.d 14 M)
Definisi: Penemuan dan penggalian penyelamatan (rescue excavation) terhadap struktur dinding dan saluran air kuno dari susunan bata merah tebal di wilayah Kecamatan Gading.
Uraian: Struktur masif yang baru dieksplorasi ini memperlihatkan karakteristik teknologi drainase permukiman maju pra-Majapahit atau Majapahit awal. Penemuan terbaru ini mematahkan asumsi lama bahwa wilayah pedalaman Probolinggo dahulu hanyalah hutan belantara.
Fosil (Istilah Paleontologi / Geologi — Jutaan Tahun Lalu)
Definisi: Sisa-sisa, jejak, atau cetakan dari makhluk hidup masa prasejarah yang telah membatu tertimbun lapisan tanah.
Uraian: Peninggalan fosil di Probolinggo utamanya ditemukan di koridor dataran tinggi lereng Pegunungan Argopuro dan kawasan cagar alam vulkanik Bromo-Tengger, mencakup jejak botani purba (fosil kayu) serta fauna purba yang membantu ilmuwan memetakan evolusi lanskap alam sebelum dihuni manusia.
Glipang (Tari Kiprah Glipang) (Seni Pertunjukan — Abad ke-19 M s.d Modern)
Definisi: Kesenian tari tradisional asli bumi Probolinggo yang diciptakan oleh Sari Truno pada masa kolonial Belanda.
Uraian: Tari ini lahir sebagai perlawanan kultural tersembunyi terhadap penjajah Belanda. Karakteristik gerakannya mengombinasikan unsur bela diri (pencak silat) dengan ketukan musik perkusi yang tegas, dinamis, dan menghentak.
Hayam Wuruk (Sejarah / Tokoh — 1334 s.d 1389 M)
Definisi: Raja ke-4 Kerajaan Majapahit bergelar Sri Rajasanagara yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan maritim dan nusantara.
Uraian: Hubungan Hayam Wuruk dengan Probolinggo sangat erat. Pada tahun 1359 M, ia melakukan perjalanan inspeksi spiritual besar-besaran ke wilayah timur (Oosthoek) dan singgah lama di berbagai daerah di Probolinggo (Banger, Geding, Pajarakan, dan Jabung). Kehadiran fisik sang raja di Probolinggo menjadi momentum peresmian banyak fasilitas keagamaan dan tanah perdikan di wilayah ini.
Keramik Pesisir (Arkeologi Maritim — Abad ke-12 s.d 15 M)
Definisi: Artefak perdagangan berupa pecahan porselen, mangkuk, wadah, dan guci kuno asal Tiongkok peninggalan era Dinasti Song dan Ming.
Uraian: Banyak ditemukan di lapisan tanah pesisir Dringu dan Paiton, menjadi bukti arkeologis konkret bahwa pelabuhan kuno Probolinggo merupakan salah satu bandar dagang internasional yang aktif dalam jaringan niaga maritim global Majapahit.
Kitab Kuno (Manuskrip / Naskah Kuno) (Istilah Filologi)
Definisi: Dokumen tertulis buatan tangan masa lampau yang digubah di atas media daun lontar, kertas kuno (dluwang), atau kulit kayu, berisi khazanah sastra, hukum, sejarah, atau liturgi keagamaan.
Uraian: Khazanah kitab kuno di Probolinggo terbagi menjadi dua klasifikasi besar: kitab pujasastra keraton (seperti Negarakertagama dan Pararaton) serta kitab liturgi lokal masyarakat (seperti naskah-naskah Lontar Mantra Tengger).
Madakaripura (Situs Alam-Sejarah — 22 Juli 1357 M)
Definisi: Kawasan cagar budaya berupa ngarai melingkar dan air terjun setinggi 200 meter di Kecamatan Lumbang.
Uraian: Berdasarkan Kitab Negarakertagama, situs ini diidentifikasi sebagai tanah perdikan (bhumi sima) yang dihadiahkan oleh Raja Hayam Wuruk kepada Mahapatih Gajah Mada pasca-Peristiwa Bubat (1357 M). Tempat ini dipercaya sebagai lokasi pertapaan akhir (moksa) sang Mahapatih.
Mantra Purvabhumi (Lontar Tengger) (Kitab Kuno — 17 September 1780 M)
Definisi: Kitab kuno berbahan media daun lontar bertuliskan aksara Kawi/Jawa Pertengahan milik masyarakat Tengger.
Uraian: Memiliki titimangsa penyalinan kuat sejak 17 September 1780 M. Dokumen filologi suci ini merupakan pedoman liturgi utama yang dipegang oleh para Dukun Pandita Suku Tengger di Sukapura, berisi mantra doa keselamatan dan tata cara pelaksanaan ritual adat Bromo.
Minakjinggo (Sejarah / Mitologi Sastra — Abad ke-15 M)
Definisi: Tokoh penguasa (Adipati) Blambangan yang dalam narasi semi-historis Babad dan cerita rakyat (Damarwulan) menjadi rival politik Majapahit.
Uraian: Dalam konteks geografi sejarah Probolinggo, nama Minakjinggo erat kaitannya dengan benteng pertahanan kuno di daerah Pajarakan dan Geding. Koridor pesisir Probolinggo merupakan wilayah perbatasan sekaligus panggung perebutan kekuasaan militer antara pasukan pusat Majapahit di barat dan kekuatan pasukan Minakjinggo dari arah timur.
🏛️ KELOMPOK [ N - P ]
Negarakertagama (Desawarnana) (Kitab Kuno / Sejarah — 10 September 1365 M)
Definisi: Kitab kakawin monumental gubahan pujangga istana Mpu Prapanca yang rampung ditulis pada 10 September 1365 M (1287 Saka).
Uraian: Kitab ini merupakan sumber primer tertulis paling berharga bagi Probolinggo. Pada Pupuh 32, 33, dan 34, kitab ini merinci secara sangat presisi perjalanan spritual Raja Hayam Wuruk saat menginspeksi daerah timur Jawa, merekam topografi kuno Probolinggo, serta adat istiadat masyarakat lokal abad ke-14.
Pendalungan (Kebudayaan / Sosiologi — Abad ke-18 M s.d Modern)
Definisi: Entitas kebudayaan dan sosiologis khas yang menjadi identitas utama masyarakat Kabupaten Probolinggo.
Uraian: Hasil dari asimilasi, akulturasi, dan perkawinan silang budaya yang harmonis antara etnis Jawa dan Madura di kawasan pesisir utara (Oosthoek). Budaya ini melahirkan dialek bahasa campuran yang unik (kosakata Jawa bersuara/intonasi Madura), watak masyarakat yang egaliter, lugas, terbuka, serta melahirkan kesenian hibrida (seperti Tari Glipang).
Penemuan Fragmen Kapal Kuno Dringu (Penemuan Terbaru / Arkeologi Maritim — Estimasi Abad ke-16 M)
Definisi: Penemuan potongan kayu lambung kapal berlapis serta pasak kayu tua di kawasan rawa pesisir pantai Dringu.
Uraian: Penemuan mutakhir ini memberikan data baru yang sangat berharga bagi sejarah kemaritiman Selat Madura. Karakteristik teknik penyambungan papan kapal tanpa paku besi (tradisi Asia Tenggara) ini mempertegas fakta lapangan bahwa Dringu merupakan pusat galangan atau penambatan armada laut aktif pada masa transisi Hindu-Islam.
Petilasan (Istilah Arkeologi / Sejarah)
Definisi: Situs berupa tempat tinggal, tempat bertapa, tempat pemberhentian sementara (persinggahan), atau lokasi terjadinya peristiwa penting tokoh sejarah masa lalu yang dianggap sakral, namun tidak memuat sisa jasad (bukan makam).
Uraian: Contoh petilasan paling legendaris di Probolinggo adalah Petilasan Gua Air Terjun Madakaripura (tempat bertapa Mahapatih Gajah Mada) serta Petilasan Punden Kamandaka di lereng Tengger.
Prapanca (Mpu Prapanca) (Sejarah / Tokoh — Abad ke-14 M)
Definisi: Pujangga sastra istana Majapahit, berpangkat Dharmadyaksa Kasogatan (kepala urusan agama Buddha), yang menggubah Kitab Negarakertagama.
Uraian: Mpu Prapanca berjasa besar bagi historiografi Probolinggo karena ia ikut serta langsung dalam rombongan kereta Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 M. Pengamatan mata kepalanya sendiri mengenai keindahan alam, aktivitas keagamaan di Candi Jabung, serta struktur desa-desa di Probolinggo dicatat secara abadi dalam karya sastranya.
Prasasti (Istilah Arkeologi / Epigrafi)
Definisi: Piagam atau dokumen resmi yang digoreskan pada bahan keras dan tahan lama (batu, lempeng tembaga, perunggu, atau emas), memuat keputusan hukum, anugerah raja, atau maklumat suci dari masa lampau.
Uraian: Keberadaan prasasti di wilayah Probolinggo berfungsi sebagai bukti autentik tertulis mengenai status legalitas spasial suatu wilayah kuno. Benda epigrafi ini memuat data penanggalan yang sangat presisi (hari, bulan, tahun Saka), nama raja yang berkuasa, alasan penetapan sebuah desa menjadi daerah bebas pajak (sima/perdikan), hingga daftar sanksi kutukan (sapatha) bagi pelanggarnya.
Prasasti Rameswarapura (Artefak Hukum — 26 Mei 1261 M)
Definisi: Dokumen prasasti produk hukum tertua di Probolinggo berupa 8 lempeng perunggu beraksara Kawi/Jawa Kuno.
Uraian: Diresmikan pada 26 Mei 1261 M oleh Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singasari. Memuat ketetapan hukum formal mengenai pembebasan pajak tanah serta pembagian wilayah swatantra (sima) yang dikuduskan untuk pendarmaan keluarga diraja.
🏛️ KELOMPOK [ Q - Z ]
Pura Luhur Poten (Budaya / Arsitektur — Tahun 1992 M)
Definisi: Situs peribadatan agung umat Hindu Tengger yang berdiri di tengah hamparan Segara Wedi (Laut Pasir) kaki Gunung Bromo, Sukapura.
Uraian: Didirikan secara permanen pada Tahun 1992 M dengan memadukan arsitektur pura Jawa Klasik (Majapahit) dan Bali. Berfungsi sebagai pusat orientasi kosmologis dan lokasi utama penyerahan sesaji pada malam puncak Yadnya Kasada.
Tengger (Suku Tengger) (Living Heritage — Abad ke-14 M s.d Modern)
Definisi: Komunitas masyarakat adat luhur yang mendiami kawasan dataran tinggi pegunungan Bromo, khususnya di Kecamatan Sukapura.
Uraian: Keturunan langsung dari masyarakat Jawa Klasik era Majapahit yang mengisolasi diri ke gunung. Suku Tengger berhasil mempertahankan sistem kepercayaan Hindu-Tengger, hukum adat, dialek bahasa, penanggalan kuno, dan cara hidup tradisional secara murni selama berabad-berabad.
Yadnya Kasada (Ritual Budaya — Abad ke-14 M s.d Modern)
Definisi: Upacara ritual keagamaan dan adat terbesar masyarakat Suku Tengger yang digelar setiap hari ke-14 bulan Kasada berdasarkan penanggalan tradisional.
Uraian: Ritual ini berpusat di Pura Luhur Poten dan bibir kawah Gunung Bromo. Tujuannya adalah melarung hasil bumi dan doa ke dalam kawah aktif sebagai wujud rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan abadi kepada leluhur asal-usul Tengger, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
