Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Mengapa Kota dan Kabupaten Beda Hari Jadinya?

 

Foto: Purnomo-Arief Darmawan-Bambang Sutedjo-Sugeng Waluyo.
Sumber: Dokumen Pribadi Purnomo [Sabtu Kliwon,27.06.2026]

Mengapa Kota dan Kabupaten Beda Hari Jadinya?

Oleh: Bambang Sutedjo


Sesama Probolinggo beda titik awal penetapan 'hari jadi' sejarahnya. Kenapa demikian?,  ternyata keduanya punya sudut pandang berbeda dalam menentukan titik awalnya. Berdasarkan Pisau bedah (Metodologi) SILUPATI "Lekha Citra, Sima Jagat, Upatti Satya."  (Mencatat sejarah, merawat warisan bumi, dan memutus dengan kebenaran fakta).


Ketika terlibat dalam obrolan di rumah kediaman pak SUWAL (Sugeng Waluyo)---Jl. 'LAS VEGAS'--- di Pendil, Ba'da Ashar (Sabtu Kliwon, 27.06.2026) berjalan gayeng, tak terasa sampai terdengar berkumandang adzan Magrib.


Obrolan santai sore itu, ditemani kue terang bulan dan air mineral serta buah salak. Kami ngobrol berempat: Bpk. Arief Darmawan (Kabid Kebudayaan DISPENDIK Kab Probolinggo), Bpk. Purnomo (KS SD), Bpk. Sugeng (Pensiunan KS SD Tiris) serta saya sendiri (Pensiunan Guru dan Kepala Perpustakaan Prapanca SMPN 2 Maron). Tujuan kedatangan kami dalam rangka merangkai elemen-elemen sejarah yang tercecer, untuk dirangkai kembali sebagai satu buku holistik Sejarah Kabupaten Probolinggo nantinya.


Ketika bpk. Arief bersama bpk. Purnomo beralih ke topik pembicaraan tentang hari jadi antara kota dan kabupaten Probolinggo berbeda, dan menawarkan kita menulis sejarah ini dari mana? saya mendengar sambil merenung. Dalam perenungan itu ..., tiba-tiba HP berdering "Ayah cepat pulang"..., Sudah maghrib kita ke Probolinggo. Akhrinya konsentrasi buyar... .


Sebelum saya menimpali ternyata bpk. Kabid sefrekwensi/mengkode untuk pamit pulang, rupanya menangkap sinyal HP-ku juga sehingga kita bertiga pamit pulang. Sambil berdiri agak susah beliau mengatakan mungkin kaki saya ini gejala asam urat.  Dalam perjalanan pulang dari Pendil ke Bandaran---Dringu---menempuh waktu dan jarak [29 mnt; 15,6 km lewat Jl. Pantura/Jl. Raya Panglima Sudirman] --- perenunganku kuteruskan selama perjalanan. Mata memang melihat situasi jalan raya Pendil-SASA/Gending-Pajurangan-Bentar-Dringu-Bandaran, namun fokus pikiran masih tetap pada pertanyaan, kenapa harus beda, ya... ? Bukankan Kota Probolinggo sebelumnya itu merupakan bagian dari kabupaten Probolinggo? Sebelumnya belum ada dan baru berdiri jadi kota Probolinggo?.

 


Sesampai di Bandaran Dringu kubuka metodologi SILUPATI. 

SILUPATI PISAU BEDAH METODOLOGI. SILUPATI "Lekha Citra, Sima Jagat, Upatti Satya."  (Mencatat sejarah, merawat warisan bumi, dan memutus dengan kebenaran fakta).


Sebagai pisau bedah metodologi dalam penerapan bergerak di lapangan, nama SILUPATI memanifestasikan tiga pilar metodologi kritis dari fenomena di Warisan Probolinggo:


SI (Sima): Tanah Swatantra / Merdeka Melambangkan sifat yang independen, objektif, dan merdeka dari segala intervensi politik maupun pragmatisme. Bertindak sebagai ruang suci yang mengayomi, melestarikan, dan mempertahankan keaslian.


LU (Lekha / Lipi): Dokumentasi & Literasi Kontekstual Menegaskan bahwa setiap pergerakan wajib berbasis pada data tekstual, dokumentasi lapangan yang presisi, dan kekuatan literasi. Pilar ini menjadi motor penggerak publikasi ilmiah, kodifikasi naskah kuno. Warisan Probolinggo.


PATI (Upatti): Kritik Kritis & Validasi Ilmiah Mewakili karakter yang skeptis, analitis, dan tajam. Layaknya para Upapatti (hakim agung/ahli kitab era klasik), sikap ini bertugas menyaring mitos dari fakta, menguji validitas sumber primer, serta membedah sejarah dengan sudut pandang Bumiputrasentris---menempatkan agensi lokal Probolinggo sebagai penggerak utama peradaban.


Membedah polemik Hari Jadi menggunakan Tiga Pilar SILUPATI menjadi sebuah bedah metodologi tingkat tinggi.



Mari kita simulasikan bagaimana ketiga pilar tersebut membedah perbedaan Hari Jadi Kota (4 September 1359 M) dan Kabupaten (18 April 1746 M) ini datanya:


1. Pembedahan Lewat Pilar SI (Sima)

Pisau Bedah: Menguji aspek independensi, wilayah, dan ruang pelestarian objek sejarah.

Hasil Bedah di Lapangan:

Kota (4 September 1359 M)= 667 TH: Mengambil ruang lingkup geografis yang sangat spesifik, yaitu singgahnya Hayam Wuruk di daerah hilir/pesisir (Curah Banger). Ini adalah upaya mengunci "tanah sejarah" agar masyarakat urban kota memiliki ikatan batin dengan era klasik Majapahit.

Kabupaten (18 April 1746 M)= 280 TH: Memiliki cakupan wilayah (Sima) yang jauh lebih luas secara geopolitik. Pilihan tahun 1746 menandai batas wilayah administratif (Tapal Kuda bagian barat) yang nantinya melahirkan batas-batas Kabupaten Probolinggo modern yang luas hingga ke lereng Tengger.



2. Pembedahan Lewat Pilar LU (Lekha / Lipi)

Pisau Bedah: Menguji kekuatan dokumen tertulis, teks primer, dan dokumentasi naskah.

Hasil Bedah di Lapangan:

Kota (4 September 1359 M): Memiliki dokumen tertulis (Lekha) yang sangat tua dan sakral, yaitu manuskrip Kakawin Nagarakertagama (Desawarnana) karya Mpu Prapanca. Secara teks, otentisitasnya tidak terbantahkan karena ditulis sezaman dengan peristiwanya (abad ke-14).

Kabupaten (18 April 1746 M): Berbasis pada dokumen transisi, yaitu Arsip Kolonial (VOC) dan Lontar/Babad lokal pasca-era Untung Suropati. Kekuatan Lekha-nya terletak pada legalitas hukum formal (akta pengangkatan) birokrasi pemerintahan modern pertama di Banger oleh Kyai Djojolelono.

 


3. Pembedahan Lewat Pilar PATI (Upatti)

Pisau Bedah: Melakukan kritik sumber, menyaring motif di balik angka tahun, dan menerapkan sudut pandang Bumiputrasentris.


Hasil Bedah di Lapangan:

Di sinilah peran kita sebagai Upatti (Hakim Penguji). Kita harus kritis melihat bahwa Kota memilih 1359 M karena memiliki motif ideologis Bumiputrasentris yang kuat---ingin melepaskan diri dari bayang-bayang narasi bentukan VOC dan kembali ke akar agung leluhur Nusantara.


Sementara Kabupaten memilih 1746 M karena motif Pragmatisme Birokrasi. Meskipun bersentuhan dengan lingkaran politik VOC, figur Kyai Djojolelono tetap dipandang secara kritis sebagai tokoh lokal (agensi lokal) yang meletakkan batu pertama tatanan pemerintahan Probolinggo.

 


KESIMPULAN & SUDUT PANDANG "SILUPATI"

(Terhadap Polemik Perbedaan Hari Jadi Kota vs Kabupaten Probolinggo)


1. Hari Jadi KABUPATEN Probolinggo: Berbasis institusi pemerintahan (birokrasi)

Titi Mangsa: 18 April 1746 M

Akar Sejarah: Diambil dari momen diangkatnya Kyai Djojolelono sebagai Bupati Banger (nama lama Probolinggo) pertama oleh VOC, setelah runtuhnya kekuasaan Untung Suropati di wilayah Tapal Kuda.


Sudut Pandang (Kritik Upatti): Kabupaten memilih tanggal ini karena menetapkan titik mula berdirinya institusi pemerintahan (birokrasi) Kadipaten Banger sebagai cikal bakal wilayah administratif Kabupaten yang luas.

 


2. Hari Jadi KOTA Probolinggo: Berbasis Kitab Klasik Majapahit

Titi Mangsa: 4 September 1359 M

Akar Sejarah: Diambil dari catatan perjalanan Raja Hayam Wuruk dalam Kitab Negarakertagama. Berdasarkan perhitungan sejarawan, pada tanggal 4 September 1359 M, Raja Hayam Wuruk singgah di sebuah desa bernama Curah banger (sekarang masuk wilayah kota) dan melakukan penataan daerah.


Sudut Pandang (Kritik Upatti): Kota memilih tanggal ini karena ingin menarik akar sejarahnya jauh lebih tua ke masa kejayaan Majapahit (Bumiputrasentris), menegaskan bahwa Probolinggo sebagai sebuah "permukiman/peradaban" sudah eksis berabad-abad sebelum VOC datang.

 


Rekomendasi dari SILUPATI:

"SILUPATI memandang", perbedaan ini justru adalah berkah kekayaan khazanah, bukan sebuah kecacatan sejarah. Kota Probolinggo mewakili Akar Peradaban Kuno (The Ancient Root), sedangkan Kabupaten Probolinggo mewakili Cikal Bakal Administrasi Modern (The Administrative Birth).



Tugas kita di Tim Sejarah Probolinggo bukan untuk memaksakan salah satu tanggal agar seragam, melainkan mengedukasi masyarakat luas secara objektif: bahwa bumi Probolinggo begitu istimewa karena memiliki "dua lapisan waktu sejarah yang sama-sama hidup, legal, dan terdokumentasi dengan sangat kuat." [Bandaran, Sabtu Kliwon: 27 Juni 2026].