Mengapa Kota dan Kabupaten Beda Hari Jadinya?
Sumber: Dokumen Pribadi Purnomo [Sabtu Kliwon,27.06.2026]
Mengapa Kota dan Kabupaten Beda Hari Jadinya?
Oleh: Bambang Sutedjo
Sesama Probolinggo beda titik awal penetapan 'hari jadi' sejarahnya. Kenapa demikian?, ternyata keduanya punya sudut pandang berbeda dalam menentukan titik awalnya. Berdasarkan Pisau bedah (Metodologi) SILUPATI "Lekha Citra, Sima Jagat, Upatti Satya." (Mencatat sejarah, merawat warisan bumi, dan memutus dengan kebenaran fakta).
Ketika terlibat dalam obrolan di rumah kediaman pak SUWAL (Sugeng Waluyo)---Jl. 'LAS VEGAS'--- di Pendil, Ba'da Ashar (Sabtu Kliwon, 27.06.2026) berjalan gayeng, tak terasa sampai terdengar berkumandang adzan Magrib.
Obrolan santai sore itu, ditemani kue terang bulan dan air mineral serta buah salak. Kami ngobrol berempat: Bpk. Arief Darmawan (Kabid Kebudayaan DISPENDIK Kab Probolinggo), Bpk. Purnomo (KS SD), Bpk. Sugeng (Pensiunan KS SD Tiris) serta saya sendiri (Pensiunan Guru dan Kepala Perpustakaan Prapanca SMPN 2 Maron). Tujuan kedatangan kami dalam rangka merangkai elemen-elemen sejarah yang tercecer, untuk dirangkai kembali sebagai satu buku holistik Sejarah Kabupaten Probolinggo nantinya.
Ketika bpk. Arief bersama bpk. Purnomo beralih ke topik pembicaraan tentang hari jadi antara kota dan kabupaten Probolinggo berbeda, dan menawarkan kita menulis sejarah ini dari mana? saya mendengar sambil merenung. Dalam perenungan itu ..., tiba-tiba HP berdering "Ayah cepat pulang"..., Sudah maghrib kita ke Probolinggo. Akhrinya konsentrasi buyar... .
Sebelum saya menimpali ternyata bpk. Kabid sefrekwensi/mengkode untuk pamit pulang, rupanya menangkap sinyal HP-ku juga sehingga kita bertiga pamit pulang. Sambil berdiri agak susah beliau mengatakan mungkin kaki saya ini gejala asam urat. Dalam perjalanan pulang dari Pendil ke Bandaran---Dringu---menempuh waktu dan jarak [29 mnt; 15,6 km lewat Jl. Pantura/Jl. Raya Panglima Sudirman] --- perenunganku kuteruskan selama perjalanan. Mata memang melihat situasi jalan raya Pendil-SASA/Gending-Pajurangan-Bentar-Dringu-Bandaran, namun fokus pikiran masih tetap pada pertanyaan, kenapa harus beda, ya... ? Bukankan Kota Probolinggo sebelumnya itu merupakan bagian dari kabupaten Probolinggo? Sebelumnya belum ada dan baru berdiri jadi kota Probolinggo?.
Sesampai di Bandaran Dringu
kubuka metodologi SILUPATI.
SILUPATI PISAU BEDAH
METODOLOGI. SILUPATI "Lekha Citra, Sima Jagat, Upatti
Satya." (Mencatat sejarah, merawat warisan bumi, dan memutus dengan
kebenaran fakta).
Sebagai pisau bedah metodologi dalam penerapan bergerak di lapangan, nama SILUPATI memanifestasikan tiga pilar metodologi kritis dari fenomena di Warisan Probolinggo:
SI (Sima): Tanah Swatantra / Merdeka Melambangkan sifat yang independen, objektif, dan merdeka dari segala intervensi politik maupun pragmatisme. Bertindak sebagai ruang suci yang mengayomi, melestarikan, dan mempertahankan keaslian.
LU (Lekha / Lipi): Dokumentasi
& Literasi Kontekstual Menegaskan bahwa setiap pergerakan wajib berbasis
pada data tekstual, dokumentasi lapangan yang presisi, dan kekuatan literasi.
Pilar ini menjadi motor penggerak publikasi ilmiah, kodifikasi naskah kuno.
Warisan Probolinggo.
PATI (Upatti): Kritik Kritis
& Validasi Ilmiah Mewakili karakter yang skeptis, analitis, dan tajam.
Layaknya para Upapatti (hakim agung/ahli kitab era klasik), sikap ini bertugas
menyaring mitos dari fakta, menguji validitas sumber primer, serta membedah
sejarah dengan sudut pandang Bumiputrasentris---menempatkan agensi lokal Probolinggo
sebagai penggerak utama peradaban.
Membedah polemik Hari Jadi
menggunakan Tiga Pilar SILUPATI menjadi sebuah bedah metodologi tingkat tinggi.
Mari kita simulasikan bagaimana
ketiga pilar tersebut membedah perbedaan Hari Jadi Kota (4 September 1359 M)
dan Kabupaten (18 April 1746 M) ini datanya:
1. Pembedahan Lewat Pilar SI (Sima)
Pisau Bedah: Menguji aspek
independensi, wilayah, dan ruang pelestarian objek sejarah.
Hasil Bedah di Lapangan:
Kota (4 September 1359 M)= 667
TH: Mengambil ruang lingkup geografis yang sangat spesifik, yaitu singgahnya
Hayam Wuruk di daerah hilir/pesisir (Curah Banger). Ini adalah upaya mengunci
"tanah sejarah" agar masyarakat urban kota memiliki ikatan batin
dengan era klasik Majapahit.
Kabupaten (18 April 1746 M)= 280
TH: Memiliki cakupan wilayah (Sima) yang jauh lebih luas secara geopolitik.
Pilihan tahun 1746 menandai batas wilayah administratif (Tapal Kuda bagian
barat) yang nantinya melahirkan batas-batas Kabupaten Probolinggo modern yang
luas hingga ke lereng Tengger.
2. Pembedahan Lewat Pilar LU (Lekha / Lipi)
Pisau Bedah: Menguji kekuatan
dokumen tertulis, teks primer, dan dokumentasi naskah.
Hasil Bedah di Lapangan:
Kota (4 September 1359 M):
Memiliki dokumen tertulis (Lekha) yang sangat tua dan sakral, yaitu manuskrip
Kakawin Nagarakertagama (Desawarnana) karya Mpu Prapanca. Secara teks,
otentisitasnya tidak terbantahkan karena ditulis sezaman dengan peristiwanya
(abad ke-14).
Kabupaten (18 April 1746 M):
Berbasis pada dokumen transisi, yaitu Arsip Kolonial (VOC) dan Lontar/Babad
lokal pasca-era Untung Suropati. Kekuatan Lekha-nya terletak pada legalitas
hukum formal (akta pengangkatan) birokrasi pemerintahan modern pertama di
Banger oleh Kyai Djojolelono.
3. Pembedahan Lewat Pilar PATI (Upatti)
Pisau Bedah: Melakukan
kritik sumber, menyaring motif di balik angka tahun, dan menerapkan sudut
pandang Bumiputrasentris.
Hasil Bedah di Lapangan:
Di sinilah peran kita sebagai
Upatti (Hakim Penguji). Kita harus kritis melihat bahwa Kota memilih 1359 M
karena memiliki motif ideologis Bumiputrasentris yang kuat---ingin melepaskan
diri dari bayang-bayang narasi bentukan VOC dan kembali ke akar agung leluhur
Nusantara.
Sementara Kabupaten memilih 1746
M karena motif Pragmatisme Birokrasi. Meskipun bersentuhan dengan lingkaran
politik VOC, figur Kyai Djojolelono tetap dipandang secara kritis sebagai tokoh
lokal (agensi lokal) yang meletakkan batu pertama tatanan pemerintahan
Probolinggo.
KESIMPULAN & SUDUT PANDANG
"SILUPATI"
(Terhadap Polemik Perbedaan Hari
Jadi Kota vs Kabupaten Probolinggo)
1. Hari Jadi KABUPATEN Probolinggo: Berbasis institusi pemerintahan (birokrasi)
Titi Mangsa: 18 April 1746 M
Akar Sejarah: Diambil dari momen
diangkatnya Kyai Djojolelono sebagai Bupati Banger (nama lama Probolinggo)
pertama oleh VOC, setelah runtuhnya kekuasaan Untung Suropati di wilayah Tapal
Kuda.
Sudut Pandang (Kritik
Upatti): Kabupaten memilih tanggal ini karena menetapkan titik mula
berdirinya institusi pemerintahan (birokrasi) Kadipaten Banger sebagai cikal
bakal wilayah administratif Kabupaten yang luas.
2. Hari Jadi KOTA Probolinggo:
Berbasis Kitab Klasik Majapahit
Titi Mangsa: 4 September 1359 M
Akar Sejarah: Diambil dari
catatan perjalanan Raja Hayam Wuruk dalam Kitab Negarakertagama. Berdasarkan
perhitungan sejarawan, pada tanggal 4 September 1359 M, Raja Hayam Wuruk
singgah di sebuah desa bernama Curah banger (sekarang masuk wilayah kota) dan
melakukan penataan daerah.
Sudut Pandang (Kritik Upatti):
Kota memilih tanggal ini karena ingin menarik akar sejarahnya jauh lebih tua ke
masa kejayaan Majapahit (Bumiputrasentris), menegaskan bahwa Probolinggo
sebagai sebuah "permukiman/peradaban" sudah eksis berabad-abad
sebelum VOC datang.
Rekomendasi dari SILUPATI:
"SILUPATI memandang",
perbedaan ini justru adalah berkah kekayaan khazanah, bukan sebuah kecacatan
sejarah. Kota Probolinggo mewakili Akar Peradaban Kuno (The Ancient Root),
sedangkan Kabupaten Probolinggo mewakili Cikal Bakal Administrasi Modern (The
Administrative Birth).
