SILUPATI Manuskrip Wilayah Prabalingga
Nama Item : Bagian
dari Manuskrip 2 lembar dari ANRI (Arsip Nasional Indonesia)
Sumber
: (Kiriman dari Bpk. Nurhidayatullah: Grup WA: TIM Sejarah
Kabupaten Probolinggo)
Waktu
: Hari Minggu Legi, 28 Juni 2026: Pukul 11:11 WIB)
(Pembedah SILUPATI (Foto 1 ): Bambang
Sutedjo,S.Pd.)
Mari kita bedah arsip manuskrip ini secara
akademis menggunakan pisau analisis SILUPATI (khususnya
pilar LEKHA untuk membaca teks dan UPATTI untuk
melihat kaitannya dengan sejarah Probolinggo).
📜 1. Deskripsi Tulisan &
Bahasa
·Jenis Dokumen: Salinan resmi surat keputusan atau
perintah kerja (Ordres / Order brief) tertulis
dari era transisi VOC.
·Gaya Tulisan: Ditulis menggunakan gaya tulisan
tangan Cursive Dutch Gothic / Old Dutch Script khas
abad ke-18.
·Bahasa: Menggunakan Bahasa Belanda
Kuno (Oud-Nederlands) dengan serapan istilah/nama jabatan struktural
Jawa pra-kolonial.
·Kalimat Pembuka (Transkripsi Awal): Di bagian atas tertulis dengan
sangat jelas nama tokoh-tokoh penting:
"Translaat Javaanse ordres verleend
door den Raden Adipattij Natta Coessoema aan den Javaansen Regent tot
Passourouang den Raden Tommongong Safra Winata..."
(Terjemahan: Terjemahan perintah-perintah
Jawa yang diberikan oleh Raden Adipati Nata Kusuma kepada Regent/Bupati Jawa di
Pasuruan, Raden Tumenggung Sastrawinata...)
🏛️ 2. Asal Sumber Arsip
Arsip jenis ini merupakan bagian dari
koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) atau Nationaal
Archief Belanda, khususnya dari bundel dokumen Karesidenan Pasuruan atau Dagregisters (Catatan
Harian) VOC di Semarang/Surabaya sekitar pertengahan abad ke-18 (era tahun
1700-an).
Dokumen ini merekam korespondensi tata
pemerintahan antara otoritas pribumi tingkat atas (Adipati) yang diawasi atau
diterjemahkan untuk kepentingan administrasi kompeni (VOC) di wilayah pesisir
timur Jawa (Oosthoek).
🎯 3. Isi Konten dan Kaitannya
dengan Probolinggo
Jika dokumen ini dibaca dengan saksama,
nama Prabalingga disebut beberapa kali (ditulis dengan ejaan
lama Belanda: Prabalingae atau Prabalinga).
Berikut adalah poin-poin krusial isi dokumen yang berkaitan langsung dengan
sejarah Probolinggo:
· Pembagian Wilayah
Kekuasaan Pesisir Timur: Pada paragraf tengah hingga bawah, dokumen
ini membahas mengenai pengaturan desa-desa (dorpen), tenaga kerja, dan
batas administratif pasca-pergolakan politik di wilayah timur. Teks menyebutkan
integrasi atau pembagian wilayah antara tiga simpul utama: Passourouang
(Pasuruan), Bangil, dan Prabalinga (Probolinggo).
· Penyebutan "Prabalinga
en part": Terdapat kalimat yang berbunyi: "...in
drien verdeelt, dat is Passourouang twee, Bangil en Prabalinga een part..." artinya
wilayah tersebut dibagi menjadi beberapa bagian tugas atau porsi administratif:
dua bagian untuk Pasuruan, serta Bangil dan Probolinggo mendapat bagian/porsi
tersendiri.
· Mobilisasi Penduduk dan
Pengawasan Wilayah: Surat ini mengatur agar para mantri (pejabat lokal
seperti Patra Sotrawiera yang disebutkan di atas teks)
dan penduduk di desa-desa bawah wilayah Bangil dan Probolinggo tidak
dipindahkan secara sembarangan tanpa izin dari Regent (Bupati).
· Hubungan dengan
Kyai Djojolelono (Hari Jadi Kabupaten 1746 M): Kemunculan nama Bupati
Pasuruan (Tumenggung Sastrawinata) dan Raden Adipati Nata Kusuma dalam dokumen
berbahasa Belanda kuno ini sangat sinkron dengan era pemulihan wilayah Tapal
Kuda oleh VOC pasca-pemberontakan Untung Suropati.
Ini adalah era yang sama ketika Kyai Djojolelono disahkan
menjadi Bupati Banger (Probolinggo) pertama pada tahun 1746. Dokumen ini
menjadi bukti otentik bagaimana jaringan birokrasi Pasuruan-Probolinggo
dikendalikan pada masa itu.
Nama Item : Bagian dari Manuskrip 2 lembar dari
ANRI (Arsip Nasional Indonesia)
Sumber
: (Kiriman dari Bpk. Nurhidayatullah: Grup WA: TIM Sejarah
Kabupaten Probolinggo)
Waktu
: Hari Minggu Legi, 28 Juni 2026: Pukul 11:11 WIB)
(Pembedah SILUPATI (Foto 2): Bambang
Sutedjo,S.Pd.)
🖋️ Transkripsi Tekstual
(Pilar LEKHA)
Jika dibaca huruf demi huruf sesuai
karakter tulisan tangan masa itu, teks tersebut berbunyi:
"Djasalana üijt prabalinga"
(Catatan paleografi: Huruf "dj" di
depan dibaca dengan langgam ejaan lama Jawa/Melayu untuk nama tokoh,
huruf "üijt" adalah ejaan lama dari kata Belanda
modern "uit", dan kata terakhir ditulis jelas menggunakan
huruf kecil lambung panjang khas abad ke-18).
⚖️ Arti dan Bedah Konteks Sejarah (Pilar
UPATTI)
Secara bahasa Belanda, kalimat pendek ini
memiliki arti:
"Djasalana dari Probolinggo" atau "Djasalana luar
Probolinggo"
Mari kita bedah siapa dan apa
konteks "Djasalana" ini dalam hubungannya dengan
Probolinggo era transisi (sekitar tahun 1700-an):
1. Siapa "Djasalana"? Dalam struktur birokrasi dan militer
Jawa abad ke-18 di wilayah Oosthoek (Jawa Timur bagian ujung),
nama Djasalana (bisa dibaca Jasasana, Jasajana,
atau Jasallana dalam dialek lokal) merujuk pada nama seorang
figur penting—kemungkinan besar seorang Mantri, Lurah, atau Pemimpin
Pasukan Komuter/Pariwisata (Kurir) yang bertugas mengurus mobilisasi
penduduk, pengamanan batas wilayah, atau logistik kompeni/kadipaten.
2. Konteks Pergerakan Wilayah (üijt
prabalinga): Frasa “üijt
prabalinga” (dari/keluar Probolinggo) dalam paragraf utuh dokumen
tersebut berkorelasi dengan kalimat sesudahnya: “...geroepen wierde
door den toumoungong Sastra Winata, sal üij moeten compareren...” (artinya:
jika dipanggil oleh Tumenggung Sastrawinata, ia harus menghadap/datang).
Ini membuktikan bahwa pada abad ke-18, figur bernama Djasalana yang
berada di wilayah Probolinggo berada di bawah yurisdiksi atau wajib memberikan
laporan kepada otoritas di Pasuruan (Tumenggung Sastrawinata).
💡 Kesimpulan:
A. FOTO 1:
Terkait pilar LEKHA dalam
SILUPATI, saya menemukan salinan dokumen kolonial abad ke-18 ini. Di sini
tertulis jelas instruksi Raden Adipati Nata Kusuma kepada Tumenggung
Sastrawinata dari Pasuruan yang mengatur pembagian porsi wilayah administratif
antara Pasuruan, Bangil, dan Prabalinga. Ini adalah bukti tekstual
sekunder yang sangat kuat untuk melacak bagaimana tata kelola wilayah
Probolinggo di masa transisi Islam-Kolonial pasca-era Banger."
B. FOTO 2:
"Menyambung pilar LEKHA dalam metodologi SILUPATI, potongan foto 2 merupakan bagian paling otentik dari arsip manuskrip abad ke-18 tadi. Perhatikan goresan tangan kolonial ini, tertulis dengan sangat jelas nama tokoh lokal 'Djasalana üijt prabalinga' (Djasalana dari Probolinggo). Ini adalah bukti fisik penulisan nama Probolinggo dalam dokumen resmi administrasi transisi pasca-era Banger!"
Salam dari Bambang Sutedjo. Bandaran, Ahad Legi, 28 Juni 2026
Sumber Pustaka:
1. Arsip VOC 1602-1795 (1811), Nationaal Archief (Den Haag), Toegang/
Kode akses 1.04.02Inventaris Nomer 7889, Halaman/folio
240 A R S I P V O C
2. ARSIP Sejarah Nusantra ANRI : A R S I P A N R I



