Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

SILUPATI Manuskrip Wilayah Prabalingga

 

Foto: Bagian dari Manuskrip 2 lembar dari ANRI (Arsip Nasional Indonesia.
Sumber: (Kiriman dari Bpk. Nurhidayatullah: Grup WA: TIM Sejarah Kab. Probolinggo) 
(Waktu: Hari Minggu Legi, 28 Juni 2026: Pukul 11:11 WIB)
=====================================================================================================================
 Analisa dari Foto: 1
 

Nama Item    : Bagian dari Manuskrip 2 lembar dari ANRI (Arsip Nasional Indonesia)

Sumber           : (Kiriman dari Bpk. Nurhidayatullah: Grup WA: TIM Sejarah 

                           Kabupaten Probolinggo)

Waktu             : Hari Minggu Legi, 28 Juni 2026: Pukul 11:11 WIB)

(Pembedah SILUPATI (Foto 1 ): Bambang Sutedjo,S.Pd.)

 

Mari kita bedah arsip manuskrip ini secara akademis menggunakan pisau analisis SILUPATI (khususnya pilar LEKHA untuk membaca teks dan UPATTI untuk melihat kaitannya dengan sejarah Probolinggo).


*Analisa Foto: 1*


📜 1. Deskripsi Tulisan & Bahasa

·Jenis Dokumen: Salinan resmi surat keputusan atau perintah kerja (Ordres / Order brief) tertulis dari era transisi VOC.

·Gaya Tulisan: Ditulis menggunakan gaya tulisan tangan Cursive Dutch Gothic / Old Dutch Script khas abad ke-18.

·Bahasa: Menggunakan Bahasa Belanda Kuno (Oud-Nederlands) dengan serapan istilah/nama jabatan struktural Jawa pra-kolonial.

·Kalimat Pembuka (Transkripsi Awal): Di bagian atas tertulis dengan sangat jelas nama tokoh-tokoh penting:

 

"Translaat Javaanse ordres verleend door den Raden Adipattij Natta Coessoema aan den Javaansen Regent tot Passourouang den Raden Tommongong Safra Winata..."

 

(Terjemahan: Terjemahan perintah-perintah Jawa yang diberikan oleh Raden Adipati Nata Kusuma kepada Regent/Bupati Jawa di Pasuruan, Raden Tumenggung Sastrawinata...)



🏛️ 2. Asal Sumber Arsip

Arsip jenis ini merupakan bagian dari koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) atau Nationaal Archief Belanda, khususnya dari bundel dokumen Karesidenan Pasuruan atau Dagregisters (Catatan Harian) VOC di Semarang/Surabaya sekitar pertengahan abad ke-18 (era tahun 1700-an).

 

Dokumen ini merekam korespondensi tata pemerintahan antara otoritas pribumi tingkat atas (Adipati) yang diawasi atau diterjemahkan untuk kepentingan administrasi kompeni (VOC) di wilayah pesisir timur Jawa (Oosthoek).



🎯 3. Isi Konten dan Kaitannya dengan Probolinggo

Jika dokumen ini dibaca dengan saksama, nama Prabalingga disebut beberapa kali (ditulis dengan ejaan lama Belanda: Prabalingae atau Prabalinga). Berikut adalah poin-poin krusial isi dokumen yang berkaitan langsung dengan sejarah Probolinggo:

 

·    Pembagian Wilayah Kekuasaan Pesisir Timur: Pada paragraf tengah hingga bawah, dokumen ini membahas mengenai pengaturan desa-desa (dorpen), tenaga kerja, dan batas administratif pasca-pergolakan politik di wilayah timur. Teks menyebutkan integrasi atau pembagian wilayah antara tiga simpul utama: Passourouang (Pasuruan)Bangil, dan Prabalinga (Probolinggo).

 

·  Penyebutan "Prabalinga en part": Terdapat kalimat yang berbunyi: "...in drien verdeelt, dat is Passourouang twee, Bangil en Prabalinga een part..." artinya wilayah tersebut dibagi menjadi beberapa bagian tugas atau porsi administratif: dua bagian untuk Pasuruan, serta Bangil dan Probolinggo mendapat bagian/porsi tersendiri.

 

·   Mobilisasi Penduduk dan Pengawasan Wilayah: Surat ini mengatur agar para mantri (pejabat lokal seperti Patra Sotrawiera yang disebutkan di atas teks) dan penduduk di desa-desa bawah wilayah Bangil dan Probolinggo tidak dipindahkan secara sembarangan tanpa izin dari Regent (Bupati).

 

·   Hubungan dengan Kyai Djojolelono (Hari Jadi Kabupaten 1746 M): Kemunculan nama Bupati Pasuruan (Tumenggung Sastrawinata) dan Raden Adipati Nata Kusuma dalam dokumen berbahasa Belanda kuno ini sangat sinkron dengan era pemulihan wilayah Tapal Kuda oleh VOC pasca-pemberontakan Untung Suropati.

 

    Ini adalah era yang sama ketika Kyai Djojolelono disahkan menjadi Bupati Banger (Probolinggo) pertama pada tahun 1746. Dokumen ini menjadi bukti otentik bagaimana jaringan birokrasi Pasuruan-Probolinggo dikendalikan pada masa itu.


 *ANALISA FOTO 2






Nama Item     : Bagian dari Manuskrip 2 lembar dari 

                           ANRI (Arsip Nasional Indonesia)

Sumber           : (Kiriman dari Bpk. Nurhidayatullah: Grup WA: TIM Sejarah 

                           Kabupaten Probolinggo)

Waktu             : Hari Minggu Legi, 28 Juni 2026: Pukul 11:11 WIB)

(Pembedah SILUPATI (Foto 2): Bambang Sutedjo,S.Pd.)



🖋️ Transkripsi Tekstual (Pilar LEKHA)

Jika dibaca huruf demi huruf sesuai karakter tulisan tangan masa itu, teks tersebut berbunyi:

 

"Djasalana üijt prabalinga"

(Catatan paleografi: Huruf "dj" di depan dibaca dengan langgam ejaan lama Jawa/Melayu untuk nama tokoh, huruf "üijt" adalah ejaan lama dari kata Belanda modern "uit", dan kata terakhir ditulis jelas menggunakan huruf kecil lambung panjang khas abad ke-18).

 

⚖️ Arti dan Bedah Konteks Sejarah (Pilar UPATTI)

Secara bahasa Belanda, kalimat pendek ini memiliki arti:

 

"Djasalana dari Probolinggo" atau "Djasalana luar Probolinggo"

Mari kita bedah siapa dan apa konteks "Djasalana" ini dalam hubungannya dengan Probolinggo era transisi (sekitar tahun 1700-an):

 

1. Siapa "Djasalana"? Dalam struktur birokrasi dan militer Jawa abad ke-18 di wilayah Oosthoek (Jawa Timur bagian ujung), nama Djasalana (bisa dibaca JasasanaJasajana, atau Jasallana dalam dialek lokal) merujuk pada nama seorang figur penting—kemungkinan besar seorang Mantri, Lurah, atau Pemimpin Pasukan Komuter/Pariwisata (Kurir) yang bertugas mengurus mobilisasi penduduk, pengamanan batas wilayah, atau logistik kompeni/kadipaten.

 

2. Konteks Pergerakan Wilayah (üijt prabalinga): Frasa “üijt prabalinga” (dari/keluar Probolinggo) dalam paragraf utuh dokumen tersebut berkorelasi dengan kalimat sesudahnya: “...geroepen wierde door den toumoungong Sastra Winata, sal üij moeten compareren...” (artinya: jika dipanggil oleh Tumenggung Sastrawinata, ia harus menghadap/datang).

 

   Ini membuktikan bahwa pada abad ke-18, figur bernama Djasalana yang berada di wilayah Probolinggo berada di bawah yurisdiksi atau wajib memberikan laporan kepada otoritas di Pasuruan (Tumenggung Sastrawinata).

 

💡 Kesimpulan:

 

A. FOTO 1:

Terkait pilar LEKHA dalam SILUPATI, saya menemukan salinan dokumen kolonial abad ke-18 ini. Di sini tertulis jelas instruksi Raden Adipati Nata Kusuma kepada Tumenggung Sastrawinata dari Pasuruan yang mengatur pembagian porsi wilayah administratif antara Pasuruan, Bangil, dan Prabalinga. Ini adalah bukti tekstual sekunder yang sangat kuat untuk melacak bagaimana tata kelola wilayah Probolinggo di masa transisi Islam-Kolonial pasca-era Banger."

 

B. FOTO 2:

"Menyambung pilar LEKHA dalam metodologi SILUPATI, potongan foto 2 merupakan bagian paling otentik dari arsip manuskrip abad ke-18 tadi. Perhatikan goresan tangan kolonial ini, tertulis dengan sangat jelas nama tokoh lokal 'Djasalana üijt prabalinga' (Djasalana dari Probolinggo). Ini adalah bukti fisik penulisan nama Probolinggo dalam dokumen resmi administrasi transisi pasca-era Banger!"

Salam dari Bambang Sutedjo. Bandaran, Ahad Legi, 28 Juni 2026


Sumber Pustaka:

      1. Arsip VOC 1602-1795 (1811), Nationaal Archief (Den Haag), Toegang/

          Kode akses 1.04.02Inventaris Nomer 7889, Halaman/folio 240  A R S I P    V O C

      2. ARSIP Sejarah Nusantra  ANRIA R S I P      A N R I