Perbedaan Arkeologi-Sejarah dan Budaya di Probolinggo
Menyingkap
Tiga Pilar Peradaban: Apa Beda Sejarah, Arkeologi, dan Budaya di Probolinggo?
Oleh: Bambang Sutedjo, S.Pd.
Ketika kita berbicara tentang "Warisan
Probolinggo", kita sebenarnya sedang merawat tiga pilar besar yang
saling menguatkan, namun sering kali disalahpahami sebagai satu hal yang sama.
Tiga pilar itu adalah Sejarah, Arkeologi, dan Budaya.
Secara singkat, perbedaan mendasarnya adalah:
Sejarah adalah cerita dan catatannya (tersurat lewat
teks).
Arkeologi adalah bukti fisik dan bendanya (tersentuh
lewat artefak/ekskavasi).
Budaya adalah jiwa dan tradisi hidupnya (terawat
dalam kehidupan sehari-hari saat ini).
Untuk melihat bagaimana ketiga pilar ini bekerja, mari
kita bedah lini masa peradaban Bhumi Probolinggo secara berurutan, mulai dari
lini masa tertua (Prasejarah) hingga era modern.
1. Era Nirleka / Prasejarah
(Zaman Batu s.d. Abad ke-9 M)
Zaman Nirleka (Nir: tidak ada, Leka: tulisan) adalah
masa sebelum manusia mengenal tulisan. Pada era ini, pilar Sejarah tidak
mampu berbicara karena tidak ada dokumen tertulis. Di sinilah pilar Arkeologi
mengambil peran sebagai "juru bicara utama" bagi masa lalu yang bisu.
- Pilar
Arkeologi (Batu Kenong – Kisarahan 2500 s.d. 1500 SM): Berdasarkan catatan Balai
Pelestarian Kebudayaan (Bapebud Jatim), di lereng Bromo (Situs Sukapura
& Sumber) ditemukan benda monolit berbentuk silinder dengan tonjolan
bundar di atasnya. Ini adalah peninggalan akhir zaman Megalitikum, yang
menjadi bukti arkeologis otentik adanya hunian dan area sakral purba di
Probolinggo.
- Pilar Budaya (Embrio Penghormatan Alam): Meski manusianya belum mengenal aksara, sistem kepercayaan dan embrio penghormatan terhadap alam serta pegunungan pada era ini tetap hidup dan menjadi cikal bakal akar tradisi lokal.
2. Era Klasik / Kerajaan (Abad ke-10
M s.d. Abad ke-16 M)
Pada era ini, pilar Sejarah mulai bekerja
karena aksara mulai berbicara melalui prasasti dan kitab sastra. Pilar Arkeologi
bertugas membuktikan kebenaran teks tersebut, sementara pilar Budaya
memastikan tradisinya tidak punah.
- Pilar
Budaya & Sejarah (Eksistensi Awal Suku Tengger – Tahun 929 M / Abad
ke-10): Jejak
tertulis tertua eksistensi masyarakat Tengger tercatat pada Prasasti
Walandit bertahun 929 Masehi di era Raja Sindok. Kerajaan menetapkan
wilayah Tengger sebagai daerah perdikan (bebas pajak) karena warganya
adalah penjaga Gunung Brahma (Bromo). Hingga detik ini, budaya
Hindu-Tengger purba tersebut masih bernapas teguh melalui upacara Yadnya
Kasada.
- Pilar
Arkeologi (Situs Candi Kedaton – Abad ke-11 s.d. 12 M): Berdasarkan ekskavasi dan
zonasi di Kecamatan Tiris, ditemukan struktur pondasi dan fragmen purba
yang membuktikan adanya aktivitas keagamaan dan peradaban sejak masa
Kerajaan Kediri sebelum era Majapahit.
- Pilar
Arkeologi (Candi Jabung – Tahun 1354 M): Struktur menara bulat megah berbahan bata merah
peninggalan era Majapahit Tengah di Paiton. Angka tahun pahatan reliefnya
(1354 M) menunjukkan candi ini diresmikan sebagai tempat pendarmaan Bhre
Gundal.
- Pilar
Sejarah (Kitab Negarakertagama – Tahun 1359 M): Puncak catatan sejarah
tertulis Klasik Probolinggo terekam saat Raja Hayam Wuruk melakukan
inspeksi resmi keliling Jawa Timur dan sempat singgah di Curahbrami
(Kraksaan).
- Pilar
Arkeologi (Situs Sapikerep – Abad ke-15 s.d. 16 M): Peninjauan arkeologis di
kawasan Sukapura menemukan struktur petirtaan kuno dan fragmen arca. Ini
menjadi bukti fisik jalur penyelamatan diri masyarakat Majapahit akhir
yang mundur ke pegunungan Tengger demi merawat tradisi lama mereka.
3. Era Kolonial & Perkembangan
Sub-Kultur (Abad ke-18 M s.d. Abad ke-19 M)
Era di mana Probolinggo berkembang menjadi kota
transit, pusat industri gula, dan wilayah asimilasi dua suku besar.
- Pilar
Sejarah & Budaya (Lahirnya Kultur Pendalungan – Kisarahan Tahun 1740 -
1743 M):
Sejarah mencatat pasca-Perjanjian Giyanti, VOC mulai menguasai pantai
utara Jawa dan mendirikan Benteng Mayangan (Loji VOC) sekitar tahun
1740-an M. Demi kepentingan perkebunan tebu di Tapal Kuda, VOC membuka
migrasi besar-besaran tenaga kerja dari pulau Madura. Pembauran intensif
antara kultur Madura yang ekspresif dan Jawa yang halus melahirkan
sub-kultur baru bernama Pendalungan dengan kesenian khas seperti Jaran
Bodhag, Dhung-Kerdhung, dan tari Glagah Wangi.
- Pilar
Arkeologi (Gereja Merah / Westerkerk – Tahun 1862 M): Bangunan berbahan plat besi
rakitan (knock-down) bergaya Neogotik yang diresmikan di pusat kota
pada tahun 1862 M. Secara arkeologis, cagar budaya fisik ini menjadi
penanda puncak era industrialisasi gula kolonial (seperti PG Wonolangan
& PG Gending).
🔍 Rangkuman Inti
Perbedaan Peran
|
Indikator
Pembeda |
A.
SEJARAH (Tersurat) |
B.
ARKEOLOGI (Tersentuh) |
C. BUDAYA
(Terawat) |
|
Fokus
Utama |
Kejadian
masa lalu manusia yang memiliki catatan tertulis. |
Sisa
materi atau benda fisik yang terkubur atau tersisa. |
Sistem
nilai, ritual, dan perilaku yang terus mengalir. |
|
Sumber
Data |
Dokumen,
manuskrip, arsip kolonial, kitab kuno. |
Artefak,
candi, batuan purba, makam, pondasi bata. |
Adat
istiadat, upacara ritual, dialek, kesenian daerah. |
|
Kondisi
Objek |
Berupa
teks atau narasi statis di dalam arsip/perpustakaan. |
Berupa
benda mati konkrit yang ditemukan lewat ekskavasi. |
Berupa
aktivitas dinamis yang dirawat secara lisan dan tindakan. |
|
Contoh
Nyata di Probolinggo |
Lembaran
Kitab Negarakertagama (1359 M) tentang perjalanan Raja Majapahit. |
Struktur
fisik bangunan Candi Jabung (1354 M) di Paiton. |
Pelaksanaan
Upacara Yadnya Kasada Tengger dan kesenian Jaran Bodhag Pendalungan. |
Kesimpulan: Inti Perbedaan Pilar Warisan Probolinggo
Ketiga pilar ini tidak berjalan sendiri-sendiri,
melainkan berkelindan membentuk satu rajutan utuh:
Sejarah memberi kita teks ceritanya, Arkeologi
menunjukkan bukti fisiknya, dan Budaya adalah bagaimana kita menghidupkan
warisan tersebut hari ini.
Melalui portal Warisan Probolinggo, kita
berkomitmen untuk meneliti ceritanya (Sejarah), merawat buktinya (Arkeologi),
dan menjaga agar apinya tetap menyala dalam sanubari masyarakat (Budaya) untuk
diwariskan kepada generasi mendatang.
Untuk menegaskan kembali batas ruang lingkup kerja dan perbedaan mendasar dari ketiga bidang ini, berikut adalah rincian indikator pembedanya:
A. SEJARAH (Masa Lalu yang
Tersurat)
·
Fokus Utama: Kejadian atau peristiwa manusia masa lalu
yang memiliki catatan tertulis.
· Sumber Data: Dokumen, manuskrip kuno, arsip kolonial,
kitab sastra kuno, atau prasasti bertulis.
· Kondisi Objek: Berupa teks atau narasi statis yang
disimpan di dalam perpustakaan, museum, atau balai arsip.
· Contoh di Probolinggo: Lembaran Kitab Negarakertagama (1359 M)
yang memuat cerita perjalanan dinas Raja Majapahit melewati wilayah
Probolinggo.
B. ARKEOLOGI (Masa Lalu
yang Tersentuh)
· Fokus Utama: Sisa-sisa materi atau benda fisik
peninggalan manusia yang terkubur atau tersisa.
· Sumber Data: Artefak (alat-alat), ekofak (lingkungan),
candi, pondasi bata kuno, serta sisa tulang/makam.
· Kondisi Objek: Berupa benda mati konkrit yang
ditemukan melalui metode survei lapangan atau teknik ekskavasi (penggalian
tanah).
· Contoh di Probolinggo: Struktur fisik bangunan Candi Jabung (1354 M) di
Paiton yang tersusun dari bata merah kuno.
C. BUDAYA (Masa Lalu yang
Terawat)
· Fokus Utama: Jiwa, sistem nilai, tradisi, ritual, dan
perilaku kolektif manusia yang terus mengalir.
· Sumber Data: Adat istiadat, upacara ritual, dialek
bahasa, kesenian daerah, hingga hukum adat.
· Kondisi Objek: Berupa aktivitas dinamis yang dirawat
secara lisan maupun tindakan, serta masih hidup di tengah masyarakat hari ini.
· Contoh di Probolinggo: Harmonisasi adat asimilasi
Jawa-Madura pada kesenian Jaran
Bodhag Pendalungan dan pelaksanaan Upacara Yadnya Kasada Tengger yang eksis hingga
detik ini.
Untuk memudahkan ingatan
kita, mari kita rangkum jalinan pilar ini dalam satu simpul kronologis:
·
Zaman Prasejarah (Nirleka): Tidak bisa ditulis oleh Sejarah (karena tidak ada
dokumen), namun berhasil diidentifikasi oleh Arkeologi (lewat penemuan fisik Batu Kenong 2500
SM), dan embrio penghormatan alamnya tetap dirawat oleh Budaya (lewat akar
tradisi masyarakat Tengger).
·
Zaman Sejarah (Klasik-Kolonial): Ditulis oleh Sejarah (catatan
perjalanan Hayam Wuruk 1359 M & dokumen pembukaan lahan tebu migrasi etnis
Madura TH 1743 M), dibuktikan oleh Arkeologi (fisik Candi Jabung 1354 M, Situs
Sapikerep, & Gereja Merah 1862 M), dan dihidupkan oleh Budaya (eksistensi nyata
Kultur aktif Pendalungan
di pesisir & Tengger
di
·
pegunungan saat ini).
Secara sederhana, kesimpulan
perbedaan mendasar antara Sejarah,
Arkeologi, dan Budaya dalam konteks warisan daerah dapat kita rangkum
sebagai berikut, Pak Bambang:
·
Sejarah itu adalah "Cerita dan Catatannya"
o Definisi: Rekonstruksi
peristiwa masa lalu yang bersandarkan pada bukti-bukti tertulis.
o Wujudnya: Kitab kuno
(seperti Negarakertagama), prasasti bertulis, arsip kolonial, dan dokumen
perpustakaan.
o Prinsipnya: Jika tidak
ada catatan tertulis yang ditinggalkan, sejarawan tidak bisa menyusun kisahnya
secara tekstual.
·
Arkeologi itu adalah "Bukti Fisik dan Bendanya"
o Definisi: Ilmu yang
mempelajari kebudayaan masa lalu (termasuk zaman prasejarah yang belum mengenal
tulisan) melalui peninggalan benda mati yang bersifat kebendaan.
o Wujudnya: Artefak,
candi, batuan purba (seperti Batu Kenong), petirtaan kuno, hingga pondasi
bangunan kuno yang digali dari dalam tanah (ekskavasi).
o Prinsipnya: Arkeologi
bertugas menjadi "juru bicara" bagi masa lalu yang bisu, membuktikan
secara fisik apakah cerita sejarah itu nyata atau sekadar mitos.
·
Budaya itu adalah "Jiwa dan Tradisi Hidupnya"
o Definisi: Sistem nilai,
adat istiadat, ritual, dan kesenian yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur
dan masih dipraktikkan
(bernapas) oleh masyarakat hari ini.
o Wujudnya: Ritual adat
(seperti Yadnya Kasada suku Tengger) maupun asimilasi kesenian masyarakat
(seperti Jaran Bodhag pada sub-kultur Pendalungan).
o Prinsipnya: Berbeda
dengan sejarah dan arkeologi yang melihat apa yang sudah runtuh atau selesai di
masa lalu, budaya adalah warisan masa lalu yang dirawat dan dijalani secara
dinamis dalam kehidupan sehari-hari saat ini.
"Sejarah memberi kita teks ceritanya, Arkeologi menunjukkan bukti
fisiknya, dan Budaya
adalah bagaimana kita menghidupkan warisan tersebut hari ini."
Melalui Portal Warisan Probolinggo, kita
berkomitmen untuk meneliti ceritanya (Sejarah), merawat buktinya (Arkeologi),
dan menjaga agar apinya tetap menyala dalam sanubari masyarakat (Budaya).
