Periodisasi Benda dan Situs Arkeologo di Probolinggo
(Sumber: Bambang Sutedjo, Sabtu Pon 4 Muharram 1448 H)
PERIODISASI DITEMUKANNYA BENDA DAN SITUS ARKEOLOGI DI PROBOLINGGO, SEJAK ZAMAN PRASEJARAH (NIRLEKA) HINGGA MASA KOLONIAL,
LENGKAP DENGAN PERKIRAAN TAHUNNYA
BERDASARKAN PERIODISASI SEJARAH INDONESIA
Oleh: Bambang Sutedjo, S.Pd.
1. Zaman Prasejarah (Masa Megalitik)
— 2500 s.d. 1500 SM
- Nama
Peninggalan: Batu
Kenong (Situs Sukapura / Sumber).
- Deskripsi
Visual: Berupa
batu alam tunggal (monolit) berbentuk silinder atau tabung pendek. Ciri
khas paling utamanya adalah memiliki tonjolan bundar di bagian atasnya,
bentuknya sekilas mirip sekali dengan alat musik kenong pada gamelan Jawa
atau berbentuk seperti cetakan tumpeng yang tumpul.
- Situs
Batu Kenong (Kecamatan Sukapura & Sumber): Peninggalan berupa formasi
batu berbentuk silinder dengan tonjolan di atasnya (menyerupai kenong
gamelan). Diperkirakan berasal dari akhir zaman batu (Megalitikum).
- Fungsi
Arkeologis: Batu
kenong di lereng Bromo ini diduga kuat berfungsi sebagai alas tiang rumah
panggung purba, pembatas area sakral, atau bagian dari upacara pemujaan
arwah leluhur masyarakat prasejarah sebelum masuknya pengaruh
Hindu-Buddha.
2. Zaman Klasik Kuno / Masa Kerajaan
Kediri — Abad ke-11 s.d. 12 Masehi
- Nama
Peninggalan: Situs
Candi Kedaton (Kecamatan Tiris).
- Deskripsi
Visual: Saat
ini berupa reruntuhan kaki candi atau pondasi dasar yang terbuat dari
kombinasi batu andesit (batu alam gunung) dan sebagian bata merah. Di
sekitarnya terdapat hamparan tatanan batu kuno yang dikelilingi hutan dan
perbukitan hijau khas lereng gunung.
· Situs Candi Kedaton (Kecamatan Tiris): Berdasarkan analisis gaya relief awal dan penemuan
struktur pondasi paling bawah, aktivitas di kawasan ini disinyalir sudah
dimulai sejak masa Kerajaan Kediri, jauh sebelum Majapahit melakukan renovasi
besar-besaran
3. Zaman Kejayaan Kerajaan Majapahit
— Abad ke-14 Masehi (1354 M)
- Nama
Peninggalan: Candi
Jabung (Kecamatan Paiton).
- Deskripsi
Visual: Ini
adalah situs paling megah dan utuh. Berbeda dengan candi Jawa Timur pada
umumnya yang berbentuk kotak, Candi Jabung berbentuk silinder/menara
bulat yang berdiri di atas batur (pondasi) persegi bertingkat. Seluruh
strukturnya berwarna merah mencolok karena terbuat dari bata merah
berkualitas tinggi era Majapahit, lengkap dengan ukiran relief halus di
bagian dindingnya.
· Situs Sapikerep (Kecamatan Sukapura) — Abad ke-14 Masehi: Struktur petirtaan
kuno dari tatanan batu bata merah yang arsitekturnya identik dengan gaya
pemandian suci peninggalan era Majapahit Tengah.
4. Zaman Akhir Majapahit s.d.
Peralihan Islam — Abad ke-15 s.d. 16 Masehi
- Nama
Peninggalan: Arca
Kuno & Punden Tengger.
- Deskripsi
Visual: Berupa
arca-arca batu (andesit) berukuran kecil hingga sedang dengan pahatan yang
cenderung lebih sederhana (gaya seni candi mematung/gaya perbawaan
Majapahit akhir). Sering kali ditemukan tanpa kepala karena faktor usia
atau pelapukan, berada di dalam ceruk-ceruk tebing atau punden berundak di
kawasan pegunungan Tengger.
· Fungsi Arkeologis: Merupakan peninggalan masyarakat pelarian Majapahit
yang memilih mundur ke arah pegunungan demi mempertahankan tradisi lama saat
pengaruh Kesultanan Demak mulai mendominasi wilayah pesisir Jawa Timur.
5. Zaman Kolonial Hindia Belanda —
Abad ke-18 s.d. 20 Masehi
- Nama
Peninggalan: Gereja
Merah (Westerkerk) — 1862 M.
- Deskripsi
Visual:
Bangunan gereja bergaya Eropa Klasik (Neogotik) dengan ciri khas dindingnya
yang dicat merah menyala dengan kusen pintu dan jendela berwarna
putih. Struktur bangunannya sangat unik karena aslinya terbuat dari
panel-panel lempengan besi baja tebal (sistem rakitan) yang didatangkan
langsung dari Belanda.
- Benteng
Mayangan / Loji Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) — Sekitar Tahun
1740-an Masehi:
Dibangun pasca-Perjanjian Giyanti ketika kompeni mulai menguasai total
jalur pelabuhan pantai utara Jawa (De Groote Postweg versi awal)
untuk memantau aktivitas Selat Madura.
- Gereja
Merah (Westerkerk) — Tahun 1862 Masehi: Bangunan gereja Protestan berbahan plat besi
rakitan (knock-down) bergaya Neogotik. Dibawa langsung menggunakan
kapal laut dari Eropa dan diresmikan di pusat kota Probolinggo pada abad
ke-19.
- Kompleks
Industrial Pabrik Gula Kuno (PG Wonolangan & PG Gending) — Akhir Abad
ke-19 (Sekitar 1830–1880 M): Sisa bangunan masif, cerobong asap, dan jalur
rel lori yang dibangun masif selama era Tanam Paksa (Cultuurstelsel)
oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dengan pembagian ini, dari kronologi waktu
ditemukannya situs arkeologi di Probolinggo berawal dari kebudayaan batu besar
(Megalitik) di pegunungan, berkembang menjadi pusat suci Hindu-Buddha berbata
merah pada zaman kerajaan, hingga berakhir sebagai kota industri gula dan
pelabuhan militer di era modern kolonial. (FOTO ASLI Menyusul.....).
