Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Periodisasi Benda dan Situs Arkeologo di Probolinggo

Ilustrasi Gambar Periodisasi Benda dan Situs Arkeologo di Probolinggo
(Sumber: Bambang Sutedjo, Sabtu Pon 4 Muharram 1448 H)
 

PERIODISASI  DITEMUKANNYA BENDA DAN SITUS ARKEOLOGI DI PROBOLINGGO, SEJAK  ZAMAN  PRASEJARAH (NIRLEKA) HINGGA MASA KOLONIAL,

LENGKAP DENGAN PERKIRAAN TAHUNNYA
BERDASARKAN  PERIODISASI  SEJARAH  INDONESIA

Oleh: Bambang Sutedjo, S.Pd.


1. Zaman Prasejarah (Masa Megalitik) — 2500 s.d. 1500 SM

      • Nama Peninggalan: Batu Kenong (Situs Sukapura / Sumber).
      • Deskripsi Visual: Berupa batu alam tunggal (monolit) berbentuk silinder atau tabung pendek. Ciri khas paling utamanya adalah memiliki tonjolan bundar di bagian atasnya, bentuknya sekilas mirip sekali dengan alat musik kenong pada gamelan Jawa atau berbentuk seperti cetakan tumpeng yang tumpul.
      • Situs Batu Kenong (Kecamatan Sukapura & Sumber): Peninggalan berupa formasi batu berbentuk silinder dengan tonjolan di atasnya (menyerupai kenong gamelan). Diperkirakan berasal dari akhir zaman batu (Megalitikum).
      • Fungsi Arkeologis: Batu kenong di lereng Bromo ini diduga kuat berfungsi sebagai alas tiang rumah panggung purba, pembatas area sakral, atau bagian dari upacara pemujaan arwah leluhur masyarakat prasejarah sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha.

2. Zaman Klasik Kuno / Masa Kerajaan Kediri — Abad ke-11 s.d. 12 Masehi

      • Nama Peninggalan: Situs Candi Kedaton (Kecamatan Tiris).
      • Deskripsi Visual: Saat ini berupa reruntuhan kaki candi atau pondasi dasar yang terbuat dari kombinasi batu andesit (batu alam gunung) dan sebagian bata merah. Di sekitarnya terdapat hamparan tatanan batu kuno yang dikelilingi hutan dan perbukitan hijau khas lereng gunung.

·   Situs Candi Kedaton (Kecamatan Tiris): Berdasarkan analisis gaya relief awal dan penemuan struktur pondasi paling bawah, aktivitas di kawasan ini disinyalir sudah dimulai sejak masa Kerajaan Kediri, jauh sebelum Majapahit melakukan renovasi besar-besaran


3. Zaman Kejayaan Kerajaan Majapahit — Abad ke-14 Masehi (1354 M)

      • Nama Peninggalan: Candi Jabung (Kecamatan Paiton).
      • Deskripsi Visual: Ini adalah situs paling megah dan utuh. Berbeda dengan candi Jawa Timur pada umumnya yang berbentuk kotak, Candi Jabung berbentuk silinder/menara bulat yang berdiri di atas batur (pondasi) persegi bertingkat. Seluruh strukturnya berwarna merah mencolok karena terbuat dari bata merah berkualitas tinggi era Majapahit, lengkap dengan ukiran relief halus di bagian dindingnya.
·     Candi Jabung (Kecamatan Paiton) — Tahun 1354 Masehi: Berdasarkan angka tahun yang dipahat pada reliefnya dan catatan Kitab Negarakertagama, candi ini diresmikan pada pertengahan abad ke-14 sebagai pendarmaan Bhre Gundal (kerabat perempuan Raja Hayam Wuruk). Raja Hayam Wuruk sendiri tercatat singgah di sini dalam lawatan resminya pada tahun 1359 Masehi.

·     Situs Sapikerep (Kecamatan Sukapura) — Abad ke-14 Masehi: Struktur petirtaan kuno dari tatanan batu bata merah yang arsitekturnya identik dengan gaya pemandian suci peninggalan era Majapahit Tengah.


4. Zaman Akhir Majapahit s.d. Peralihan Islam — Abad ke-15 s.d. 16 Masehi

      • Nama Peninggalan: Arca Kuno & Punden Tengger.
      • Deskripsi Visual: Berupa arca-arca batu (andesit) berukuran kecil hingga sedang dengan pahatan yang cenderung lebih sederhana (gaya seni candi mematung/gaya perbawaan Majapahit akhir). Sering kali ditemukan tanpa kepala karena faktor usia atau pelapukan, berada di dalam ceruk-ceruk tebing atau punden berundak di kawasan pegunungan Tengger.
·    Arca Kuno Punden Tengger: Berbagai penemuan arca batu tanpa kepala (arca dewa) dan altar sesaji kuno di gua-gua sekitar tebing Bromo.

·   Fungsi Arkeologis: Merupakan peninggalan masyarakat pelarian Majapahit yang memilih mundur ke arah pegunungan demi mempertahankan tradisi lama saat pengaruh Kesultanan Demak mulai mendominasi wilayah pesisir Jawa Timur.


5. Zaman Kolonial Hindia Belanda — Abad ke-18 s.d. 20 Masehi

      • Nama Peninggalan: Gereja Merah (Westerkerk) — 1862 M.
      • Deskripsi Visual: Bangunan gereja bergaya Eropa Klasik (Neogotik) dengan ciri khas dindingnya yang dicat merah menyala dengan kusen pintu dan jendela berwarna putih. Struktur bangunannya sangat unik karena aslinya terbuat dari panel-panel lempengan besi baja tebal (sistem rakitan) yang didatangkan langsung dari Belanda.
      • Benteng Mayangan / Loji Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) — Sekitar Tahun 1740-an Masehi: Dibangun pasca-Perjanjian Giyanti ketika kompeni mulai menguasai total jalur pelabuhan pantai utara Jawa (De Groote Postweg versi awal) untuk memantau aktivitas Selat Madura.
      • Gereja Merah (Westerkerk) — Tahun 1862 Masehi: Bangunan gereja Protestan berbahan plat besi rakitan (knock-down) bergaya Neogotik. Dibawa langsung menggunakan kapal laut dari Eropa dan diresmikan di pusat kota Probolinggo pada abad ke-19.
      • Kompleks Industrial Pabrik Gula Kuno (PG Wonolangan & PG Gending) — Akhir Abad ke-19 (Sekitar 1830–1880 M): Sisa bangunan masif, cerobong asap, dan jalur rel lori yang dibangun masif selama era Tanam Paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah kolonial Belanda.

 

Dengan pembagian ini, dari kronologi waktu ditemukannya situs arkeologi di Probolinggo berawal dari kebudayaan batu besar (Megalitik) di pegunungan, berkembang menjadi pusat suci Hindu-Buddha berbata merah pada zaman kerajaan, hingga berakhir sebagai kota industri gula dan pelabuhan militer di era modern kolonial. (FOTO ASLI Menyusul.....).