Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Tjandi Kedaton-Andung Biru-Tiris

TJANDI KEDATON

(ANDUNGBIRU -TIRIS-PROBOLINGGO)


Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections

CATATAN HISTORIS

Candi Kedaton merupakan salah satu peninggalan bernafaskan agama Hindu dari masa akhir kejayaan Majapahit. Keberadaan pahatan angka tahun 1292 Saka (1370 Masehi) pada bagian anak tangga candi menegaskan bahwa situs ini dibangun pasca-pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, menjadikannya salah satu bukti otentik meluasnya pengaruh peradaban kraton Majapahit hingga ke pelosok pedalaman pegunungan Probolinggo bagian selatan.

Galeri Artefak: Candi Kedaton (Potret Lawas OD Era Kolonial)

  • Nama Situs: Candi Kedaton

  • Lokasi: Andungbiru, Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

  • Era/Tarikh: Selesai dibangun sekitar tahun 1370 Masehi (Akhir abad ke-14, Era Kerajaan Majapahit)

  • Bahan Utama: Batu Andesit

  • Sumber Foto: Arsip Dokumen Foto image_d4332a.jpg

Deskripsi Arsitektur & Kondisi Fisik (Analisis Gambar)

  • Struktur Batur (Kaki Candi) Bertingkat: Menunjukkan bagian batur atau kaki Candi Kedaton yang tersisa. Bangunan ini tidak lagi utuh hingga ke bagian atap, melainkan menyisakan struktur batur berundak yang terbuat dari balok-balok batu andesit dengan denah dasar persegi.

  • Relief Cerita pada Dinding: Jika diamati secara saksama, dinding luar batur candi dipenuhi oleh panil-panil relief datar (bas-relief) khas gaya Jawa Timuran. Dalam kajian arkeologi, relief di Candi Kedaton ini memuat tiga epik cerita penting, yaitu Garudeya, Samba, dan Arjunawiwaha yang sarat akan makna ruwatan (pembebasan jiwa).

  • Sosok Pria Lokal di Samping Tangga: Elemen menarik adalah hadirnya seorang pria lokal bertelanjang dada mengenakan kain penutup bawah tradisional yang berdiri bersandar di samping struktur tangga naik candi. Kehadiran figur manusia dalam foto kolonial seperti ini sering kali digunakan oleh fotografer zaman dahulu sebagai skala perbandingan visual untuk memperlihatkan perkiraan tinggi dan besar dimensi bangunan purbakala tersebut.

  • Puing di Bagian Depan (Halaman Situs): Di bagian pelataran tanah depan candi, tampak beberapa bongkahan komponen batu candi atau fragmen miniatur menara yang runtuh dan tergeletak secara acak, menunjukkan kondisi awal situs sebelum pemugaran modern dilakukan.

  • Latar Belakang Lanskap Alam Tiris: Candi ini berada di daerah dataran tinggi lereng pegunungan. Latar belakang gambar memperlihatkan barisan perbukitan berundak dan vegetasi pohon kelapa serta hutan tropis lebat yang mencerminkan topografi wilayah Kecamatan Tiris yang asri.


Sumber Pustaka: Laporan (Verslag) Tahun 1918.

Koleksi Foto: Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) di Hindia Belanda http://hdl.handle.net/1887.2/161

Koleksi Foto Institut Kern: http://hdl.handle.net/1887.2/159

Referensi:

Verslag 1918 = Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië. Laporan Purbakala (Oudheidkundig Verslag) Tahun 1918. Diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia), halaman 145, 148-155.