Prapanca: Mengapa Penulis Negarakertagama Memilih Nama "Lima Kekotoran Batin"
Prapanca: Mengapa Penulis Nagarakertagama Memilih Nama "Lima Kekotoran Batin"
Oleh: Bambang Sutedjo, S.Pd.
Mpu Prapanca dikenal sebagai penulis Nagarakretagama 1365 M, kitab yang jadi rujukan utama sejarah Majapahit. Tapi "Prapanca" bukan nama lahir. Justru dari nama samaran inilah kita bisa memahami sikap penulis terhadap kekuasaan dan dirinya sendiri.
Siapa Prapanca Sebenarnya
Berdasarkan kajian Slamet Muljana dan I Ketut Riana, nama asli penulis Nagarakretagama adalah Dang Acarya Nadendra. Ia keturunan Dharmadyaksa Kasogatan, pejabat tertinggi urusan agama Buddha di Majapahit. Ayahnya juga menjabat Dharmadyaksa, dan Nadendra menggantikannya.Awalnya Nadendra pejabat istana Hayam Wuruk. Ia ikut rombongan raja keliling Jawa Timur. Pengalaman inilah yang jadi bahan utama Nagarakretagama: daftar desa, candi, upacara, dan wilayah taklukkan Majapahit.Kariernya tidak bertahan lama. Nadendra tersingkir karena konflik politik istana. Ia mengasingkan diri ke desa. Di pengasingan itulah, tahun 1365 M, ia menyelesaikan Desawarnana yang kini disebut Nagarakretagama.
Makna Nama "Prapanca"
"Prapanca" berasal dari Sanskerta pra-paca: lima kekotoran batin dalam Buddhisme, yaitu nafsu, kebencian, ketidaktahuan, kesombongan, dan keraguan. Pemilihan nama ini punya 3 keutamaan:1. Sikap rendah hati
Dengan menyebut diri "Prapanca", Nadendra menolak gaya pujangga istana yang meninggikan diri. Ia mengaku: saya penulis yang masih punya noda batin. Sikap ini membuat Nagarakretagama terasa lebih jujur. Pujian pada Majapahit tidak dibaca sebagai propaganda buta, tapi sebagai harapan penulis yang sedang berdamai dengan kekecewaan. Tanda pertobatan.
Nama Prapanca seperti ikrar setelah jatuh dari istana
Saya tinggalkan ambisi, saya kembali ke dharma. Perpindahan dari Nadendra pejabat menjadi Prapanca pertapa terlihat jelas di struktur kitab. Pupuh awal penuh pujian istana, pupuh akhir lebih banyak uraian desa dan pertapaan.3. Kunci membaca bias sejarah
Kalau kita tahu "Prapanca" = pengakuan atas keterbatasan, maka kita jadi lebih kritis membaca Nagarakretagama. Bagian yang melebih-lebihkan Majapahit bisa dimaklumi sebagai kompensasi psikologis. Bagian yang rinci menyebut nama desa, sungai, candi, itu data lapangan Nadendra saat masih di istana. Nama Prapanca jadi kacamata hermeneutik.Lalu, "Sakyawuni"?
Banyak tulisan populer menambahkan "Sakyawuni" di belakang Prapanca. Sakyawuni = julukan Buddha Gautama. Tapi di naskah asli Nagarakretagama tidak ada kata Sakyawuni sebagai nama pribadi. Itu sebutan agama, bukan nama penulis. Penulisan yang tepat: Mpu Prapanca, nama asli Dang Acarya Nadendra.Nagarakretagama: Lebih dari Pujian
Kitab ini sering dituduh "teks propaganda"
Tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak adil kalau berhenti di situ. Nagarakretagama punya 3 lapisan:Lapisan politik: menegaskan legitimasi Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Lapisan geografis: peta paling lengkap Nusantara abad 14, menyebut Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Lapisan personal: jejak Nadendra yang kecewa tapi tetap mencintai negerinya.Tanpa lapisan ketiga, kita tidak akan paham kenapa kitab ini ditulis di desa, bukan di istana.Pelajaran untuk Penulis Sejarah
Kisah Prapanca memberi 3 pelajaran praktis
Pertama, karya besar sering lahir dari keterasingan. Tekanan politik memaksa Nadendra menjauh, tapi jarak itu memberinya ruang untuk menulis.
Kedua, nama pena adalah sikap. Prapanca memilih nama kerendahan hati, bukan gelar kebesaran. Penulis sejarah hari ini juga perlu sikap sama: jujur pada keterbatasan sumber.
Ketiga, sejarah butuh dua kaki: data lapangan dan refleksi diri. Nadendra punya keduanya. Ia jalan bersama raja, lalu merenung di desa.
Prapanca mengingatkan: menulis sejarah bukan untuk mengagungkan diri, tapi untuk membersihkan bias. Dengan memilih nama "lima kekotoran batin", Nadendra meninggalkan teladan. Sejarah akan lebih jujur kalau penulisnya berani mengaku: saya pun masih belajar.Jika hari ini kita meremehkan Nagarakretagama sebagai "teks penjilat", kita melewatkan sisi manusia Prapanca. Padahal di situlah letak kekuatannya: kejujuran seorang yang jatuh, tapi tetap menulis.
Daftar Pustaka:
1. Slamet Muljana. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. 2005.
2. I Ketut Riana. Kakawin Nagarakretagama: Terjemahan. 2009.