Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Raja Hayam Wuruk Pernah Singgah di Probolinggo Tahun (1359 Masehi / 1281 Saka)

 

Cover Buku Kitab Negara Kertagama
Sumber: https://www.catatannusantara.com/


Raja Hayam Wuruk Singgah di Probolinggo dalam Perjalanan Kerajaan Majapahit Tahun 1359 M

                               Dikutib oleh Bambang Sutesdjo dari sumber asli klik di: Empu Prapanca

Berdasarkan Kitab Negarakertagama Pupuh 28–34, Mpu Prapanca mencatat perjalanan keliling Raja Hayam Wuruk yang berlangsung pada tahun 1359 Masehi (1281 Saka). Perjalanan ini merupakan bagian dari kunjungan kenegaraan sang raja ke berbagai daerah di wilayah timur Kerajaan Majapahit.

Perjalanan dimulai dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga mencapai Keta (kini wilayah Situbondo), tempat Hayam Wuruk tinggal selama beberapa hari. Dari sana rombongan melanjutkan perjalanan ke sejumlah desa dan kawasan penting, termasuk melakukan ziarah leluhur di Kalayu serta mengunjungi berbagai wilayah perdikan dan pusat keagamaan.

Dalam Pupuh 32, disebutkan bahwa Hayam Wuruk tiba di Pajarakan dan bermalam selama empat hari. Pajarakan yang kini berada di Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu tempat persinggahan penting dalam perjalanan tersebut. Setelah itu rombongan menuju Asrama Sagara, sebuah pusat pertapaan yang digambarkan Mpu Prapanca sebagai tempat yang indah, tenang, dan penuh kehidupan spiritual.

Selanjutnya, pada Pupuh 34, setelah meninggalkan Asrama Sagara, Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan sambil beristirahat dan mengunjungi penduduk di desa-desa yang dilalui. Mpu Prapanca mencatat rute perjalanan melalui Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, dan Baremi (Bremi). Nama Banger dikenal sebagai nama lama Kota Probolinggo, sedangkan Borang, Pajarakan, dan Bremi masih dikenal hingga sekarang sebagai bagian dari wilayah Probolinggo.

Catatan perjalanan tahun 1359 M ini menjadi bukti sejarah bahwa Raja Hayam Wuruk pernah singgah dan berinteraksi dengan masyarakat di kawasan Probolinggo. Kehadiran beberapa nama tempat yang masih bertahan hingga kini menunjukkan pentingnya wilayah Probolinggo dalam jaringan pemerintahan, ekonomi, dan budaya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

Jejak Hayam Wuruk di Probolinggo yang tercatat dalam Negarakertagama meliputi:

  • Pajarakan (tempat bermalam 4 hari)
  • Borang
  • Banger (nama lama Probolinggo)
  • Bremi/Baremi

Perjalanan tersebut berlangsung pada tahun 1359 M, enam tahun setelah Hayam Wuruk naik takhta sebagai Raja Majapahit pada tahun 1353 M.

Sumber Pustaka: KAKAWIN NAGARAKRTAGAMA — KITAB NEGARA KERTAGAMA (Terjemahan) Serat Babad Kitab Sastra Naskah Nusantara Mpu Prapanca. (1365 M).

https://www.catatannusantara.com/pustaka/stqm7292o3zk969u6x4dxtno1b2tgl-27hdc-ncs3g-6ftw6-admja-a2a5a-h3tfa-mj58r-pyp5l-jzke9-lpmbz-wghhj-h2p2z-nbcd3-a4tjf-gpfre-jwjs8-tstyk