Matinya Amal Sebab Diumumkan
MATINYA AMAL SEBAB DIUMUMKAN
___
Dialog antara Ruh dan Penanya.
Penanya:
“Apa itu ikhlas?”
Ruh:
Ia adalah sebagaimana yang disabdakan dalam Hadis Qudsi:
الْإِخْلَاصُ سِرٌّ مِنْ سِرِّي، اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي، لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكْتُبَهُ، وَلَا شَيْطَانٌ فَيُفْسِدَهُ
"Ikhlas adalah rahasia di antara rahasia- Ku. Kutitipkan ia di dalam hati hamba-hamba yang Ku cintai. Malaikat tak mengetahuinya hingga tak bisa mencatatnya, dan setan pun tak mengendusnya hingga tak mampu merusaknya."
Maka , inilah hentakan paling keras bagi kita. Setiap kali tanganmu gatal ingin memposting khidmah dan amalanmu , tanyakan pada diri:
“Apakah amal ini masih menjadi rahasia antara aku dan Dia ?”
Setiap kali hatimu tergores kecewa karena tak (dihargai, diundang, diapresiasi), namamu tak muncul, atau khidmahmu tak dihargai, bisikkan pada jiwa:
“Apakah selama ini aku beramal demi selembar undangan, penghargaan, apresiasi, sebuah kemunculan, dan sebentuk penghargaan... atau murni untuk Dia?”
Dinding-Dinding Organisasi
Sufi tidak pernah anti-organisasi. Namun, para sufi tahu betul: organisasi bisa menjelma menjadi berhala baru jika ia mulai menggantikan posisi Allah di dalam hatimu.
* Rapat bisa menjadi hijab (penghalang).
* Jabatan bisa menjadi dinding .
* Tepuk tangan bisa menjadi racun yang mematikan rasa.
Maka, menepi adalah sebuah thariqah —jalannya para Arif Billah di arena dunia ini.
Menepi bukan karena benci pada keramaian, tetapi karena rindu yang membuncah untuk intim dengan Tuhan.
Menepi bukan karena kalah, lelah, tua dalam kontestasi dan presentasi hiruk pikuk dunia, tetapi karena tahu: kemenangan sejati adalah saat engkau bersujud, dan tidak ada satu pun makhluk yang tahu kecuali Dia.
Mengenal Diri, Mengenal Ilahi
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”
Mengenali diri sebagai hamba artinya sadar sesadar-sadarnya: bahwa tanpa DIA, aku bukan siapa-siapa; dan tanpa DIA, aku tak bisa apa-apa. aku adalah hamba dan harus memosisikn diri sebagai hamba-Nya.
Maka di ujung suluknya , seorang hamba yang memilih menepi akan mendengar bisikan lembut di hatinya:
“Wahai hamba-Ku yang namanya tak pernah tercatat di dalam hingar-bingar dunia, namun rintih air matanya tertulis abadi di Lauhul Mahfudz… Wahai jangkar-Ku yang diam di dasar lautan; karena engkau memilih diam dan menahan beban di bawah sana, maka perahu hidupmu ini tidak Ku-tenggelamkan.”
Futuhat Sejati
Itulah futuhat . Sebuah pembukaan spiritual.
Ia bukan tentang pangkat yang mentereng, bukan gelimangan harta yang mempesona serta bukan lilitan sorban yang megah, bukan pula jabatan yang dikejar-kejar.
Futuhat adalah rasa . Rasa tenang yang membungkus hatimu ketika engkau tak diajak dalam urusan dunia, sebab engkau tahu pasti: DIA sendiri yang telah memilih dan mengajakmu untuk intim di sepertiga malam.
Salam dari Bambang Sutedjo-Bandaran-Dringu. (Sekt. Aswaja NU Center PCNU Kab Probolinggo / Anggota TIM Penulis Sejarah Kab Probolinggo).
____
Jum’at Pon, 23 Dzulhijjah 1447 H / 10 Juni 2026 M : 13.39 WIB
