Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Ngajeni

Penanaman Nilai: Sumber: Bambang Sutedjo, Rabu Pahing, 29 Juli 2026
 

Menanamkan Budaya NGAJENI: Merawat Ruh Budi Pekerti di Pesisir Bandaran Dringu

Oleh: [Bambang Sutedjo, S.Pd/Rabu Pahing, 29 Juli 2026]


Derasnya arus modernisasi dan keterbukaan informasi di era digital tidak hanya mengubah lanskap ekonomi dan teknologi, tetapi juga mengikis secara perlahan tatanan etika sosial generasi muda. Di daerah pesisir seperti Dusun Bandaran, Desa Dringu, Kabupaten Probolinggo—sebuah wilayah unik berbahasa Jawa yang berdiri tegak di tengah kepungan kultur Pendalungan berbasis bahasa Madura—ancaman degradasi moral dan lunturnya kearifan lokal (local wisdom) menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Di tengah gempuran budaya luar dan pergeseran pola hidup masyarakat pesisir, muncul sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana cara kita membentengi generasi muda agar tetap memiliki akar karakter yang kuat? Jawabannya tidak melayang di awan, melainkan tertanam erat dalam warisan leluhur kita sendiri: Budaya NGAJENI.


Secara harfiah, kata ngajeni dalam bahasa Jawa berakar dari kata aji, yang berarti "bernilai", "berharga", atau "memiliki bobot". Dengan demikian, ngajeni bukan sekadar bersikap sopan santun secara formalitas, melainkan sebuah tindakan aktif untuk menghargai, menghormati, dan memandangkan nilai luhur pada diri orang lain, alam sekitar, serta ajaran agama.


Untuk mentransformasikan konsep adiluhung ini menjadi aksi nyata yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh anak-anak sekolah maupun remaja di Bandaran Dringu, prinsip NGAJENI dirumuskan ke dalam akronim dan indikator perilaku yang sangat konkrit: NGA, JE, dan NI.


NGA – Ngadeg Santun / Ngapurancang / Ngandap Asor

Akronim pertama, NGA, mewujud pada sikap fisik Ngadeg Santun dan Ngapurancang. Ngapurancang adalah postur tubuh khas dalam etika Jawa, di mana seseorang berdiri atau berjalan santun dengan posisi kedua tangan saling menangkup di depan tubuh (di bawah dada atau sekitar perut).


Secara filosofis, Ngapurancang melambangkan ketenangan, kesiapan untuk mendengarkan, serta penundukan ego. Ketika seorang anak berdiri dengan posisi ngapurancang di hadapan guru, orang tua, atau tokoh masyarakat di Bandaran Dringu, ia sedang mempraktikkan ajaran andhap asor—sebuah sikap kerendahan hati yang menegaskan bahwa setinggi apa pun prestasi akademis seseorang, rasa hormat kepada yang lebih tua adalah yang utama. Di era di mana anak-anak sering kali bersikap acuh tak acuh dan menatap gawai saat diajak bicara, pembiasaan gesture sederhana ini menjadi fondasi penting untuk mereset etika berkomunikasi.


JE – Jempol Right / Etika Jawa

Akronim kedua, JE, merujuk pada pemanfaatan Jempol tangan kanan dalam berinteraksi. Dalam tatanan etika Jawa dan Pendalungan, menunjuk lokasi, mengarahkan jalan, atau mempersilakan seseorang dengan menggunakan jari telunjuk—terlebih jari tengah—dianggap sebagai tindakan yang kasar dan tidak sopan (ora elok).


Penggunaan jempol tangan kanan yang dilipat santun dengan ibu jari mengarah ke atas adalah simbol tata krama luhur. Tindakan ini mengajarkan anak-anak di Bandaran Dringu untuk senantiasa melunakkan gestur tubuh mereka. Menunjuk dengan jempol melatih kepekaan rasa (olah rasa) bahwa memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat harus dimulai dari hal-hal terkecil yang kita lakukan sehari-hari.


NI – Nilai-Nilai Tindakan Luhur

Pilar ketiga sekaligus yang paling fundamental adalah NI, yaitu Nilai-Nilai Tindakan Luhur yang diwujudkan melalui ungkapan dan kebiasaan berbahasa halus (unggah-ungguh/tata basa) sehari-hari. Ada empat frasa kunci yang wajib diinternalisasikan ke dalam kehidupan anak-anak di sekolah dan rumah:


1. Nuwun Sewu / Ndherek Langkung: Mengucapkan kata permisi sembari membongkokkan sedikit badan saat berjalan melintas di depan orang tua atau kerumunan. Ini adalah simbol bahwa kita menghargai ruang publik dan menghormati keberadaan orang lain.


2. Matur Nuwun: Membiasakan diri untuk selalu mengucapkan terima kasih atas setiap bantuan, sekecil apa pun, serta menghargai pemberian orang lain.


3. Nyuwun Pangapunten: Membangun jiwa ksatria untuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf tanpa rasa gengsi.


4. Mangga & Inggih: Budaya mempersilakan orang lain terlebih dahulu (mangga) dan memberikan jawaban santun (inggih) sebagai bentuk kepatuhan dan keramahan.



Sinergi Catur Warga: Dari Sekolah Hingga Pesisir Rumah

Pendidikan karakter tidak akan pernah berhasil jika hanya dibebankan kepada pundak para guru di ruang kelas. Sekolah bukanlah "bengkel" tempat orang tua menitipkan anak yang rusak untuk diperbaiki secara instan. Karakter luhur adalah hasil dari pembiasaan yang konsisten dan berulang di semua lingkungan tempat anak tumbuh.


Di sinilah pentingnya konsep Sinergi Catur Warga. Penanaman budaya NGAJENI di Bandaran, Dringu membutuhkan kolaborasi empat pilar utama:

  • Para Guru di Sekolah: Sebagai pemicu dan penegak disiplin pembiasaan karakter.
  • Orang Tua/Wali di Rumah: Sebagai teladan utama yang mempraktikkan bahasa dan sikap ngajeni dalam interaksi keluarga sehari-hari.
  • Tokoh Masyarakat & Nelayan Senior: Sebagai pengawal kearifan lokal yang menjaga agar lingkungan pesisir tetap kondusif dan santun.
  • Pengasuh Pondok Pesantren & Guru Ngaji: Sebagai penyiram nilai-nilai spiritual, bahwa sikap ngajeni sejalan dengan ajaran akhlaqul karimah dalam agama.

Jika seorang anak diajarkan ngapurancang dan mengucapkan matur nuwun di sekolah, namun saat pulang ke rumah ia melihat orang tuanya saling membentak atau berbicara kasar, maka pendidikan karakter tersebut akan runtuh seketika. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka tidak mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka meniru apa yang kita lakukan.


Penutup: Merawat Masa Depan Bandaran Dringu

Dusun Bandaran, Dringu adalah wilayah yang kaya akan sejarah perjuangan, sejarah asimilasi bahari, dan kearifan ekologis. Namun, keberlanjutan masa depan Bandaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ikan yang ditangkap atau seberapa kokoh benteng mangrove yang ditanam, melainkan oleh seberapa beradab generasi penerusnya.


Menanamkan budaya NGAJENI adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan ruh masyarakat pesisir. Kita merindukan lahirnya generasi muda Bandaran, Dringu yang tidak hanya cerdas secara akademis dan melek teknologi modern, tetapi juga memiliki dada yang lapang dengan jiwa andhap asor, lidah yang basah dengan sapaan santun, serta perilaku yang menjunjung tinggi keharmonisan sesama.


Mari kita bergandengan tangan, mewujudkan pilar Catur Warga, dan menjadikan budaya NGAJENI sebagai nafas hidup anak-anak kita—dari bangku sekolah, ke gang-gang pemukiman, hingga ke lautan lepas.