Ngajeni
Menanamkan
Budaya NGAJENI: Merawat Ruh Budi Pekerti di Pesisir Bandaran Dringu
Oleh: [Bambang Sutedjo, S.Pd/Rabu Pahing, 29 Juli 2026]
Derasnya arus modernisasi dan keterbukaan informasi di
era digital tidak hanya mengubah lanskap ekonomi dan teknologi, tetapi juga
mengikis secara perlahan tatanan etika sosial generasi muda. Di daerah pesisir
seperti Dusun Bandaran, Desa Dringu, Kabupaten Probolinggo—sebuah wilayah unik
berbahasa Jawa yang berdiri tegak di tengah kepungan kultur Pendalungan
berbasis bahasa Madura—ancaman degradasi moral dan lunturnya kearifan lokal (local
wisdom) menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di tengah gempuran budaya luar dan pergeseran pola
hidup masyarakat pesisir, muncul sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana cara
kita membentengi generasi muda agar tetap memiliki akar karakter yang kuat?
Jawabannya tidak melayang di awan, melainkan tertanam erat dalam warisan
leluhur kita sendiri: Budaya NGAJENI.
Secara harfiah, kata ngajeni dalam bahasa Jawa
berakar dari kata aji, yang berarti "bernilai",
"berharga", atau "memiliki bobot". Dengan demikian, ngajeni
bukan sekadar bersikap sopan santun secara formalitas, melainkan sebuah
tindakan aktif untuk menghargai, menghormati, dan memandangkan nilai luhur
pada diri orang lain, alam sekitar, serta ajaran agama.
Untuk mentransformasikan konsep adiluhung ini menjadi
aksi nyata yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh anak-anak sekolah maupun
remaja di Bandaran Dringu, prinsip NGAJENI dirumuskan ke dalam akronim
dan indikator perilaku yang sangat konkrit: NGA, JE, dan NI.
NGA – Ngadeg Santun /
Ngapurancang / Ngandap Asor
Akronim pertama, NGA, mewujud pada sikap fisik Ngadeg
Santun dan Ngapurancang. Ngapurancang adalah postur tubuh
khas dalam etika Jawa, di mana seseorang berdiri atau berjalan santun dengan
posisi kedua tangan saling menangkup di depan tubuh (di bawah dada atau sekitar
perut).
Secara filosofis, Ngapurancang melambangkan
ketenangan, kesiapan untuk mendengarkan, serta penundukan ego. Ketika seorang
anak berdiri dengan posisi ngapurancang di hadapan guru, orang tua, atau
tokoh masyarakat di Bandaran Dringu, ia sedang mempraktikkan ajaran andhap
asor—sebuah sikap kerendahan hati yang menegaskan bahwa setinggi apa pun
prestasi akademis seseorang, rasa hormat kepada yang lebih tua adalah yang
utama. Di era di mana anak-anak sering kali bersikap acuh tak acuh dan menatap
gawai saat diajak bicara, pembiasaan gesture sederhana ini menjadi fondasi
penting untuk mereset etika berkomunikasi.
JE – Jempol Right / Etika Jawa
Akronim kedua, JE, merujuk pada pemanfaatan Jempol
tangan kanan dalam berinteraksi. Dalam tatanan etika Jawa dan Pendalungan,
menunjuk lokasi, mengarahkan jalan, atau mempersilakan seseorang dengan
menggunakan jari telunjuk—terlebih jari tengah—dianggap sebagai tindakan yang
kasar dan tidak sopan (ora elok).
Penggunaan jempol tangan kanan yang dilipat santun
dengan ibu jari mengarah ke atas adalah simbol tata krama luhur. Tindakan ini
mengajarkan anak-anak di Bandaran Dringu untuk senantiasa melunakkan gestur
tubuh mereka. Menunjuk dengan jempol melatih kepekaan rasa (olah rasa)
bahwa memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat harus dimulai dari
hal-hal terkecil yang kita lakukan sehari-hari.
NI – Nilai-Nilai Tindakan Luhur
Pilar ketiga sekaligus yang paling fundamental adalah NI, yaitu Nilai-Nilai Tindakan Luhur yang diwujudkan melalui ungkapan dan kebiasaan berbahasa halus (unggah-ungguh/tata basa) sehari-hari. Ada empat frasa kunci yang wajib diinternalisasikan ke dalam kehidupan anak-anak di sekolah dan rumah:
1. Nuwun Sewu / Ndherek Langkung: Mengucapkan kata permisi sembari membongkokkan sedikit badan saat berjalan melintas di depan orang tua atau kerumunan. Ini adalah simbol bahwa kita menghargai ruang publik dan menghormati keberadaan orang lain.
2. Matur Nuwun: Membiasakan diri untuk selalu mengucapkan terima kasih atas setiap bantuan, sekecil apa pun, serta menghargai pemberian orang lain.
3. Nyuwun Pangapunten: Membangun jiwa ksatria untuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf tanpa rasa gengsi.
4. Mangga & Inggih: Budaya mempersilakan orang lain terlebih dahulu (mangga) dan memberikan jawaban santun (inggih) sebagai bentuk kepatuhan dan keramahan.
Sinergi Catur Warga: Dari Sekolah
Hingga Pesisir Rumah
Pendidikan karakter tidak akan pernah berhasil jika
hanya dibebankan kepada pundak para guru di ruang kelas. Sekolah bukanlah
"bengkel" tempat orang tua menitipkan anak yang rusak untuk
diperbaiki secara instan. Karakter luhur adalah hasil dari pembiasaan yang
konsisten dan berulang di semua lingkungan tempat anak tumbuh.
Di sinilah pentingnya konsep Sinergi Catur Warga.
Penanaman budaya NGAJENI di Bandaran, Dringu membutuhkan kolaborasi
empat pilar utama:
- Para
Guru di Sekolah:
Sebagai pemicu dan penegak disiplin pembiasaan karakter.
- Orang
Tua/Wali di Rumah: Sebagai teladan utama yang mempraktikkan bahasa
dan sikap ngajeni dalam interaksi keluarga sehari-hari.
- Tokoh
Masyarakat & Nelayan Senior: Sebagai pengawal kearifan lokal yang menjaga
agar lingkungan pesisir tetap kondusif dan santun.
- Pengasuh
Pondok Pesantren & Guru Ngaji: Sebagai penyiram nilai-nilai spiritual, bahwa
sikap ngajeni sejalan dengan ajaran akhlaqul karimah dalam
agama.
Jika seorang anak diajarkan ngapurancang dan
mengucapkan matur nuwun di sekolah, namun saat pulang ke rumah ia
melihat orang tuanya saling membentak atau berbicara kasar, maka pendidikan
karakter tersebut akan runtuh seketika. Anak adalah peniru yang sangat ulung.
Mereka tidak mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka meniru apa yang
kita lakukan.
Penutup: Merawat Masa Depan Bandaran
Dringu
Dusun Bandaran, Dringu adalah wilayah yang kaya akan
sejarah perjuangan, sejarah asimilasi bahari, dan kearifan ekologis. Namun,
keberlanjutan masa depan Bandaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak
ikan yang ditangkap atau seberapa kokoh benteng mangrove yang ditanam,
melainkan oleh seberapa beradab generasi penerusnya.
Menanamkan budaya NGAJENI adalah investasi
jangka panjang untuk menyelamatkan ruh masyarakat pesisir. Kita merindukan
lahirnya generasi muda Bandaran, Dringu yang tidak hanya cerdas secara akademis
dan melek teknologi modern, tetapi juga memiliki dada yang lapang dengan jiwa andhap
asor, lidah yang basah dengan sapaan santun, serta perilaku yang menjunjung
tinggi keharmonisan sesama.
Mari kita bergandengan tangan, mewujudkan pilar Catur
Warga, dan menjadikan budaya NGAJENI sebagai nafas hidup anak-anak
kita—dari bangku sekolah, ke gang-gang pemukiman, hingga ke lautan lepas.
