Lini Waktu 00:00:00 WIB | 00:00:00 WITA | 00:00:00 WIT
Lini Kami:

Translate

Lensa Masa

Warisan Probolinggo: Arkeologi, Sejarah, dan Budaya di Era Digital

Kajian Ekologi Budaya dan Tradisi Lisan Pendalungan & Tengger

Perbedaan Arkeologi, Sejarah, dan Budaya Probolinggo

Artefak, narasi, dan praktik hidup masyarakat sebagai tiga sudut pandang.

Arkeologi Situs Tua

Menggali warisan leluhur dari candi, prasasti, dan situs kuno.

Peninggalan Era Nirleka

Jejak prasejarah sebelum aksara, dari alat batu hingga tradisi lisan.

Peninggalan Era Sejarah

Dokumen, arsip, dan manuskrip yang menandai lahirnya catatan sejarah.

Budaya Pendalungan

Merawat identitas Jawa–Madura dalam tradisi, bahasa, dan kuliner.

Budaya Tengger

Upacara Kasada dan tradisi gunung sebagai warisan spiritual.

Denyut Jalur Lama

Menelusuri jalur perdagangan kuno dan peran Probolinggo di masa lalu.

Logo Tim Sejarah

MARI BERSAMA MERAWAT MEMORI KOLEKTIF KITA!

https://budayakabprobolinggo.blogspot.com/

Bandaran, Kamis Kliwon, 1 Muharram 1448 H / 1 Kasada 1948 Saka / 1 Kala 1960 Alip (Windu Sancaya) / 17 Juni 2026

Kesuwun - Kaso'on - Terima Kasih

Renungan Dari Bandaran

 


Ilustrasi Pemikiran. Sumber: Bambang Sutedjo, Jum'at Wage 31 Juli 2026

RENUNGAN DARI BANDARAN

Oleh: Bambang Sutedjo

---------

 

Kebijaksanaan sejati, kata Tuan,

selalu datang dari Barat.

Maka sejak fajar,

kami menjemur akal budi

menghadap benua Eropa.

 

Buku-buku anak negeri

kami suruh duduk di pojok dapur.

Mereka hanya boleh bertugas

menyeduhkan teh hangat untuk Aristoteles, Goethe, Nietzsche, Plato, Socrates, dan Sartre

yang baru saja bangun tidur.

 

Empu Prapanca datang melangkah anggun,

membawa lembaran Nagarakretagama

tentang tata negara, tatanan wilayah, dan sejarah Nusantara.

“Maaf,” cetus penguji,

“ilmu politik Anda dianggap mitologi, belum sesuai teori Machiavelli.”

Empu Tantular hadir dalam hening,

menggelar lontar Sutasoma

yang memuat persatuan dalam keberagaman: Bhinneka Tunggal Ika.

“Maaf,” kata panitia,

“falsafah toleransi ini terlalu puitis, belum disahkan jurnal pluralisme Barat.”

 

Mengenai hak, sikap, dan tatanan perilaku,

leluhur Dusun Bandaran-Dringu sejatinya telah mengajarkannya berabad-abad silam.

Namun para kurator berbisik sinis:

“Etika dan kearifan lokal seperti ini belum dianggap sah,

sebab belum diselaraskan dengan teori moral Eropa.”

 

H.B. Jassin datang membawa gunung dokumen,

memetakan setiap jejak dan nafas sastra kita.

“Arsip ini terlalu lokal,” kata satpam literasi,

“kami hanya butuh kerangka acuan dari Cambridge.”

 

Gorys Keraf datang membawa panduan

tata bahasa dan susunan kalimat negeri sendiri.

Tetapi mereka menggeleng:

“Sintaksis ini kurang gagah kalau belum berjarak dengan lidah rakyat.”

 

Budi Darma mengetuk pintu

membawa jiwa-jiwa manusia yang kesepian dan absurd.

“Apakah absurditas Anda,” tanya kurator,

“sudah bersertifikat eksistensialis Paris?”

 

Goenawan Mohamad tiba

membawa esai puitis dan catatan-catatan di tepi zaman.

“Maaf,” potong panitia,

“kalimat Anda terlalu indah untuk ukuran sains yang dingin.”

 

Ignas Kleden hadir

membawa pisau analisis sosiologi dan kebudayaan yang tajam.

“Tolong periksa dulu,” bisik penguji,

“apakah pisau bedah Anda terbuat dari Mazhab Frankfurt?”

 

Gus Dur masuk sambil tersenyum,

membawa kearifan tradisi, kemanusiaan, dan humor yang merobohkan kesombongan.

“Maaf, Gus,” celoteh pimpinan sidang,

“kelakar dan kearifan lokal begini dianggap tidak akademis.”

 

Ridwan Saidi hadir

membawa tutur sejarah dan kebudayaan rakyat.

“Ini hanya folklor,” cibir para juru ukur,

“bukan sejarah versi museum di luar negeri.”

 

Dahlan Iskan datang melangkah cepat,

membawa catatan harian yang lugas, ceplos-ceplos, dan bekerja nyata.

“Terlalu populer,” putus mereka tanpa ragu.

 

Semua diminta mengisi lembar verifikasi:

Apakah Saudara lulusan atau pernah meminum air di Barat?

Mutu bacaan sedang ditimbang

oleh kompas yang jarumnya

selalu membeku ke arah Sorbonne.

 

Di depan kamera wartawan, Tuan berpidato lagi:

bacalah wacana Barat, atau paling tidak versi terjemahannya.

Pemikiran di sana serba rasional dan objektif,

karya di sini serba emosional dan subjektif.

 

Kami mencatatnya penuh patuh,

seperti murid penurut

yang takut ketahuan punya daya pikir sendiri.

Mulai besok,

Tembang Macapat akan mengenakan tuksedo Paris.

Serat Centhini akan kami kirim ke kantor imigrasi,

supaya stempelnya sah menjadi filsafat modern.

 

Babad harus belajar logat asing.

Hikayat wajib mencukur janggutnya.

Suluk dipaksa mendaftar kursus logika

supaya makrifatnya tidak dianggap lugu dan kampungan.

Betapa sibuknya

bangsa yang ingin cerdas

dengan cara mencurigai bahasa dan ingatannya sendiri.

 

Barat bukan dosa.

Timur bukan azimat.

Karya terjemahan bukan musuh.

Lokal bukan barang obralan

di rak belakang peradaban.

 

Yang aneh bukan anjuran mempelajari ilmu luar,

tetapi seorang penguji yang berdiri di tanah yang kaya akan kakawin, tembang, kidung, syair, mantra, cerpen, novel, esai, dan luka sejarah sendiri,

lalu menyuruh rakyatnya

mengimpor pandangan hidup dari toko sebelah.

 

Kami pun tertawa.

Mula-mula pelan.

Lalu meledak terbahak-bahak.

Lalu tersengat perih yang tajam.

 

Sebab setelah sekian lama merdeka,

bahasa kita yang dulu ikut berdarah-darah di jalan perjuangan,

kini masih harus mengantre panjang di loket terjemahan

hanya untuk diakui sebagai sebuah pemikiran.

 

Mungkin, Tuan,

yang paling subjektif

bukanlah karya-karya dari bumi Nusantara ini,

melainkan isi kepala

yang sejak bab pertama sudah memutuskan:

Barat adalah pusat cahaya,

dan rumah sendiri hanyalah catatan kaki

di bawah telapak sikap mental bangsa terjajah.

-----------

Bandaran: Jum’at Wage, 31 Juli 2026