Renungan Dari Bandaran
RENUNGAN DARI BANDARAN
Oleh: Bambang Sutedjo
---------
Kebijaksanaan sejati, kata Tuan,
selalu datang dari Barat.
Maka sejak fajar,
kami menjemur akal budi
menghadap benua Eropa.
Buku-buku anak negeri
kami suruh duduk di pojok dapur.
Mereka hanya boleh bertugas
menyeduhkan teh hangat untuk Aristoteles, Goethe, Nietzsche, Plato, Socrates, dan Sartre
yang baru saja bangun tidur.
Empu Prapanca datang melangkah anggun,
membawa lembaran Nagarakretagama
tentang tata negara, tatanan wilayah, dan sejarah Nusantara.
“Maaf,” cetus penguji,
“ilmu politik Anda dianggap mitologi, belum sesuai teori Machiavelli.”
Empu Tantular hadir dalam hening,
menggelar lontar Sutasoma
yang memuat persatuan dalam keberagaman: Bhinneka Tunggal Ika.
“Maaf,” kata panitia,
“falsafah toleransi ini terlalu puitis, belum disahkan jurnal pluralisme Barat.”
Mengenai hak, sikap, dan tatanan perilaku,
leluhur Dusun Bandaran-Dringu sejatinya telah mengajarkannya berabad-abad silam.
Namun para kurator berbisik sinis:
“Etika dan kearifan lokal seperti ini belum dianggap sah,
sebab belum diselaraskan dengan teori moral Eropa.”
H.B. Jassin datang membawa gunung dokumen,
memetakan setiap jejak dan nafas sastra kita.
“Arsip ini terlalu lokal,” kata satpam literasi,
“kami hanya butuh kerangka acuan dari Cambridge.”
Gorys Keraf datang membawa panduan
tata bahasa dan susunan kalimat negeri sendiri.
Tetapi mereka menggeleng:
“Sintaksis ini kurang gagah kalau belum berjarak dengan lidah rakyat.”
Budi Darma mengetuk pintu
membawa jiwa-jiwa manusia yang kesepian dan absurd.
“Apakah absurditas Anda,” tanya kurator,
“sudah bersertifikat eksistensialis Paris?”
Goenawan Mohamad tiba
membawa esai puitis dan catatan-catatan di tepi zaman.
“Maaf,” potong panitia,
“kalimat Anda terlalu indah untuk ukuran sains yang dingin.”
Ignas Kleden hadir
membawa pisau analisis sosiologi dan kebudayaan yang tajam.
“Tolong periksa dulu,” bisik penguji,
“apakah pisau bedah Anda terbuat dari Mazhab Frankfurt?”
Gus Dur masuk sambil tersenyum,
membawa kearifan tradisi, kemanusiaan, dan humor yang merobohkan kesombongan.
“Maaf, Gus,” celoteh pimpinan sidang,
“kelakar dan kearifan lokal begini dianggap tidak akademis.”
Ridwan Saidi hadir
membawa tutur sejarah dan kebudayaan rakyat.
“Ini hanya folklor,” cibir para juru ukur,
“bukan sejarah versi museum di luar negeri.”
Dahlan Iskan datang melangkah cepat,
membawa catatan harian yang lugas, ceplos-ceplos, dan bekerja nyata.
“Terlalu populer,” putus mereka tanpa ragu.
Semua diminta mengisi lembar verifikasi:
Apakah Saudara lulusan atau pernah meminum air di Barat?
Mutu bacaan sedang ditimbang
oleh kompas yang jarumnya
selalu membeku ke arah Sorbonne.
Di depan kamera wartawan, Tuan berpidato lagi:
bacalah wacana Barat, atau paling tidak versi terjemahannya.
Pemikiran di sana serba rasional dan objektif,
karya di sini serba emosional dan subjektif.
Kami mencatatnya penuh patuh,
seperti murid penurut
yang takut ketahuan punya daya pikir sendiri.
Mulai besok,
Tembang Macapat akan mengenakan tuksedo Paris.
Serat Centhini akan kami kirim ke kantor imigrasi,
supaya stempelnya sah menjadi filsafat modern.
Babad harus belajar logat asing.
Hikayat wajib mencukur janggutnya.
Suluk dipaksa mendaftar kursus logika
supaya makrifatnya tidak dianggap lugu dan kampungan.
Betapa sibuknya
bangsa yang ingin cerdas
dengan cara mencurigai bahasa dan ingatannya sendiri.
Barat bukan dosa.
Timur bukan azimat.
Karya terjemahan bukan musuh.
Lokal bukan barang obralan
di rak belakang peradaban.
Yang aneh bukan anjuran mempelajari ilmu luar,
tetapi seorang penguji yang berdiri di tanah yang kaya akan kakawin, tembang, kidung, syair, mantra, cerpen, novel, esai, dan luka sejarah sendiri,
lalu menyuruh rakyatnya
mengimpor pandangan hidup dari toko sebelah.
Kami pun tertawa.
Mula-mula pelan.
Lalu meledak terbahak-bahak.
Lalu tersengat perih yang tajam.
Sebab setelah sekian lama merdeka,
bahasa kita yang dulu ikut berdarah-darah di jalan perjuangan,
kini masih harus mengantre panjang di loket terjemahan
hanya untuk diakui sebagai sebuah pemikiran.
Mungkin, Tuan,
yang paling subjektif
bukanlah karya-karya dari bumi Nusantara ini,
melainkan isi kepala
yang sejak bab pertama sudah memutuskan:
Barat adalah pusat cahaya,
dan rumah sendiri hanyalah catatan kaki
di bawah telapak sikap mental bangsa terjajah.
-----------
Bandaran: Jum’at Wage, 31 Juli 2026
